<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mulia Dengan Manhaj Salaf</title>
	<atom:link href="http://abdulloh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abdulloh.wordpress.com</link>
	<description>Insya Alloh Bermanfa'at</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Aug 2011 00:50:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abdulloh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/0ffe8b3cbe0c3a99577eb2e379dbf241?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Mulia Dengan Manhaj Salaf</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abdulloh.wordpress.com/osd.xml" title="Mulia Dengan Manhaj Salaf" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abdulloh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>I’TIKAF ROMADLON 1431 PONPES AL UKHUWAH SUKOHARJO</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2010/08/29/i%e2%80%99tikaf-romadlon-1431-ponpes-al-ukhuwah-sukoharjo/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2010/08/29/i%e2%80%99tikaf-romadlon-1431-ponpes-al-ukhuwah-sukoharjo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 15:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Filed under: Kajian<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=543&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ITIKAF-1431-color.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2652" title="17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ITIKAF-1431-color.jpg?w=423&amp;h=604" alt="" width="423" height="604" /></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/kajian/'>Kajian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/543/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=543&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2010/08/29/i%e2%80%99tikaf-romadlon-1431-ponpes-al-ukhuwah-sukoharjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/08/ITIKAF-1431-color.jpg?w=423&#38;h=604" medium="image">
			<media:title type="html">17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Buah Zaitun &amp; Buah Tin</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2010/08/29/sekilas-buah-zaitun-buah-tin/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2010/08/29/sekilas-buah-zaitun-buah-tin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 15:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam Al-Qur&#8217;an terdapat sebuah surat dinamakan At Tiin yang diambil dari kata At Tiin yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya buah Tin. Selain buah Tin, juga terdapat buah zaitun, yang menurut sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan Tin ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=537&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Di dalam Al-Qur&#8217;an terdapat sebuah surat dinamakan At Tiin yang diambil dari kata At Tiin yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya buah Tin. Selain buah Tin, juga terdapat buah zaitun, yang menurut sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan Tin  ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh Zaitun.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: &#8220;Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun&#8221; (Qs: At Tiin: 1)</p>
<p style="text-align:justify;">Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahkan bersumpah dengan menyebutkan &#8220;Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun&#8221; tentunya hal ini mengandung hikmah yang dalam sekali selain seperti yang dinyatakan oleh sebagian ahli tafsir.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini setidaknya memicu ilmuwan dari kalangan umat Islam untuk mencoba menemukan berbagai keistimewaan yang dimiliki oleh Buah Zaitun dan Buah Tin. Salah satunya informasi singkat berikut ini:<span id="more-537"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Buah Zaitun<br />
Ilmu Pengetahuan menyatakan bahwa pohon zaitun merupakan pohon sebangsa kaya yang berumur panjang untuk masa yang lebih dari seratus tahun. Ia menghasilkan buah secara terus-menerus tanpa harus menguras tenaga manusia, sebagaimana ia akan selalu nampak hijau dan indah bila dipandang.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai penelitian ilmiah menyatakan bahwa buah zaitu tergolong zat makanan yang bagus. Di dalamnya terdapat kadar protein yang besar, sebagaimana ia memiliki kadar garam yang mengandung kalsium, zat besi, dan fosfat. Ini merupakan zat-zat penting dan vital yanh dibutuhkan oleh tubuh manusia., apalagi zaitun juga mengandung vitamin A dan B.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari buahnya dapat dikeluarkan minyak zaitun yang sangat bermanfaat bagi sistem pencernaan dan sistem peredaran darah (jantung).</p>
<p style="text-align:justify;">Minyak zaitun secara keseluruhan mampu mengungguli segala jenis minyak nabati maupun hewani. Karena ia tidak akan mengakibatkan penyakit pada saluran darah atau urat nadi, seperti yang diakibatkan oleh jenis minyak lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Disamping itu, minyak zaitun juga dipakai sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik dan sabun dengan kualitas tinggi, karena sifatnya yang mampu menghaluskan kulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Buah Tin<br />
Tin adalah buah-buahan yang mengandung zat sejenis alkalin yang mampu menghilangkan keasaman pada tubuh. Zat-zat aktif yang terdapat dalam buah tin adalah sejenis zat-zat pembersih yang bisa dipakai untuk mengobati luka luar dengan cara melumurinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur yang terkandung dalam buah Tin adalah karbohidrat, protein, dan minyak. Buah Tin juga mengandung yodium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, belerang (fosfat), chlorin, serta asam malic dan nicotinic.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil penelitian lebih lanjut menyebutkan bahwa buah Tin termasuk buah yang dapat merangsang pembentukan hemoglobin darah, cocok sebagai obat penyakit anemia. Disamping itu buah Tin juga mengandung kadar glukosa yang cukuptinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Maha Suci Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan buah Zaitun dan buah Tin yang terbukti secara ilmiah mengandung manfaat yang sangat luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/537/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=537&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2010/08/29/sekilas-buah-zaitun-buah-tin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2010/02/12/kabut-beracun-itu-bernama-valentine%e2%80%99s-day/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2010/02/12/kabut-beracun-itu-bernama-valentine%e2%80%99s-day/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 09:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf  As-Sidawi 14 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi para pendewa Valentine’s Day. Pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada orang-orang yang diinginkan. Ada yang menyatakan perasaannya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak adalah yang menyatakan kepada kekasihnya. Pada hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=535&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">Oleh : <strong>Ustadz Abu Ubaidah Yusuf  As-Sidawi</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">14 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi para pendewa Valentine’s Day. Pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada orang-orang yang diinginkan. Ada yang menyatakan perasaannya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak adalah yang menyatakan kepada kekasihnya. Pada hari itu pula mereka mengirimkan kartu atau hadiah bertuliskan <em>” Be my Valentine” </em>(Jadilah Valentine-ku) atau sama artinya “Jadilah Kekasihku”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Di Indonesia, sejak era 1980-an, perayaan Hari Valentine ini makin memprihatinkan. Jika kita masuk toko buku atau semisalnya di bulan Februari, akan tampak rak-rak yang berjajar berisikan beragam kartu ucapan Valentine’s Day. Tak mau kalah, toko-toko <em>souvenir </em>pun mulai menjajakan aneka kado bertema Valentine’s Day. Mall dan supermarket juga menghias seluruh ruangan dengan warna-warna pink dan biru lembut, dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita di mana-mana. Hampir semua media cetak dan elektronik pun jadi penggesa program misterius ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dengan berfikir sedikit saja kita dapat mengetahui bahwa perayaan ‘aneh’ ini tidak lepas dari trik bisnis para pengusaha tempat hiburan, pengusaha hotel, perangkai bunga, dan lainnya. Akhirnya jadilah perayaan Valentine sebagai perayaan bisnis yang bermuara pada perusakan akidah dan akhlak pemuda Islam (khususnya). Saatnya kita bertanya pada diri kita masing-masing, apa yang sudah kita lakukan dalam penyelamatan generasi penerus kita.<span id="more-535"></span><span id="more-2755"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"></p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Sekilas Sejarah Valentine’s Day</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Ribuan literatur yang menyebutkan sejarah Hari Valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal-usul perayaan Valentine ini. Yang paling populer adalah kisah <strong>Valentinus (St. Valentine)</strong> yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada 14 Februari 269 M. Namun kisah ini pun ada beberapa versi lagi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menilik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno. Pada waktu itu ada sebuah perayaan yang disebut <em>Lupercalia. </em>Di dalamnya terdapat rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta , Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia terhadap gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda memecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dipecut karena menganggap pecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Galasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama <em>saint Valentine’s Day </em>untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Jati diri St. Valentine sendiri masih diperdebatkan sejarawan. Saat ini, sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Di antaranya ada kisah yang menceritakan bahwa kaisar Caludius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda menikah. Tindakan kaisar itu mendapatkan tantangan dari St. Valentine yang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.</span></p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dapat kita tarik beberapa kesimpulan:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">1. Valentine’s Day berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi Kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kesyirikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">2. Upacara yang biasa dilaksanakan pada 15 februari tersebut pada tahun 496 oleh Paus Galasius I diganti menjadi 14 Februari.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">3. Agar dunia menerima, hari itu disamarkan dengan nama “hari kasih sayang” yang kini telah tersebar diberbagai negeri, termasuk negeri-negeri Islam.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"></p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Jangan Ikuti Budaya Kafir</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Begitukah wahai saudaraku seiman, Hari Valentine berasal dari zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain adalah bersumber dari paganisme syirik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Selain itu, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu makar orang-orang Yahudi yang diselundupkan ke dalam tubuh unat Islam supaya diikuti. Jadi, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu acara yang diadakan orang-orang kafir dan orang-orang yang bergelimang dosa dalam rangka berbuat maksiat, mengumbar syahwat, dan memenuhi hawa nafsu belaka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Di Bandung 12 Februari 2005, Studio Carton Multi Kreasi menggelar acara lomba menjijikkan yang diadopsi dari Amerika [Harian <em>Pikiran Rakyat </em>13 Februari 2005]. Arini dari Muri menyatakan bahwa lomba serupa pernah digelar pada Desember 2001 di New York, AS. Mengapa masih banyak pemuda-pemudi Islam tertipu dan ikut-ikutan membeo budaya orang-orang kafir tersebut? Ingatlah wahai kaum muslimin, musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kalian dari ajaran agama kalian! Alloh berfirman:</span></p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#000000;">وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar).”…<span style="color:#008000;"><strong>(QS. Al-Baqoroh [2]: 120)</strong></span></em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><strong></p>
<p></strong></em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#000000;">لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu </em>dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhab (hewan sejenis biawak di Arab). Mereka berkata, “Wahai Rasulullah apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” <strong>(HR. Bukhari 7325 dan Muslim 2669)</strong></em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Syaikh Sulaiman bin Abdulloh Alu Syaikh <em>rahimahullah </em>berkata: “Hadits ini merupakan mukjizat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>karena sungguh mayoritas umatnya ini telah mengikuti sunnah perjalanan kaum Yahudi dan Nasrani dalam gaya hidup, berpakaian, syi’ar-syi’ar agama, dan adat-istiadat. Dan hadits ini lafazhnya berupa kabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam.” [<em>Taisir Aziz al-Hamid </em>hlm. 32]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"></p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Menyoroti Valentine’s Day</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Setiap Februari menjelang, banyak remaja Indonesia yang <em>notabene </em>mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak yang mendengar bahwa Valentine adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak mereka pedulikan. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong><em>Lajnah Da’imah </em></strong>Arab Saudi pernah ditanya tentang perayaan Valentine’s Day, mengucapkan ucapan selamat, memberikan hadiah, dan menyediakan alat-alat untuknya, lantas dijawab oleh Lajnah:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">“Dalil dalil yang jelas dari al-Qur’an dan sunnah serta kesepakatan ulama salaf telah menegaskan bahwa perayaan dalam Islam hanya ada dua, Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun perayaan-perayaan lainnya yang berkaitan dengan tokoh, kelompok, atau kejadian tertentu adalah perayaan yang diada-adakan . </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Al-Hafizh Ibnu Rojab</strong> <em>rahimullah </em>berkata: “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh ahli kitab sebelum kita melainkan berdasarkan syari’at dan dalil.” <strong>(<em>Fathul-Bari</em>: 1/159, <em>Tafsir Ibnu Rajob</em>: 1/390)]. </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Tidak boleh umat Islam merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya karena hal itu berarti melanggar hukum Alloh yang merupakan suatu tindak kezaliman. Dan bila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka maikn parah dosanya sebab hal itu merupakan <em>tasyabbuh </em>(menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan Alloh dalam al-Qur’an yang mulia telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka. Juga, telah shohih bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">و من تشبه بقوم فهو منهم</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” </em>(HR. Abu Dawud: 4031, Ahmad: 2/50, 92, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Irwa’ul-Gholil</em>: 1269)</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Perayaan Valentine’s day termasuk hal di atas karena termasuk perayaan penyembah berhala dan umat Nasrani. Maka tidak boleh umat Islam yang beriman kepada Alloh dan hari akhir ikut merayakannya, menyetujuinya, dan mengucapkan selamat untuknya. Bahkan yang wajib adalah meninggalkannya dan menjauhinya sebagai ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya serta menjauhi sebab kemurkaan Alloh. Sebagaimana pula diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsori, dan sebagainya karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Alloh berfirman:</span></p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…<span style="color:#008000;"><strong>(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)</strong></span></em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">[ <em>Fatawa Lajnah Da’imah Lil-Buhuts Ilmiyyah wal-Ifta’</em>: 21203 tgl. 22/11/1420.]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Syaikh Muhammad al-Utsaimin</strong> <em>rahimahullah </em>menyebutkan beberapa dampak negatif perayaan Valentine’s Day. Beliau berkata dalam fatwa yang beliau tanda tangani bertanggal 5 Dzulqo’dah 1420 H:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">“Perayaan ini tidak boleh karena alasan berikut:</span></p>
<blockquote style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><strong>Pertama</strong>. </em>Valentine’s Day hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><strong>Kedua.</strong> </em>Merayakan Valentine’s Day dapat menyebabkan cinta yang semu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><strong>Ketiga.</strong> </em>Menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salafush-sholih <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Maka tidak halal melakukan ritual hari raya dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun lainnya. Hendaklah setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, bukan menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.” [ <em>Majmu’ Fatawa wa Rosa’il </em>kar. Syaikh Ibnu Utsaimin: 16/199-200. Lihat pula <em>Fatawa Ulama’ Baladil-Haram </em>hlm. 1022-1024 dan <em>as-Sunan wal-Mubtada’at fil-A’yad </em>hlm. 52 kar. Dr. Abdurrohman bin Sa’ad asy-Syisyri.]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dampak buruk lainnya, terhapuslah nilai-nilai Islam serta memperbanyak jumlah mereka dengan mendukung dan mengikuti agama mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Alhasil, hendaklah kaum muslimin sekarang ini mengetahui dan berhati-hati terhadap propaganda yang diserukan oleh orang-orang kafir yang berusaha menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam dan melegalkan ajarannya yang sesat lagi menyesatkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"></p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Valentine, Hari Cinta?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dikatakan, Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih sayang dan cinta. Benarkah demikian? Salah, bahkan pernyataan itu sungguh memperihatinkan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih, padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaimana tercantum dalam QS. al-Baqoroh [2]: 165, at-Taubah [9]: 24, al-Fath [48]: 29, dan al-Ma’idah [5]: 54.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Kelihaian dan kelicikan musuh Islam untuk menipu umat Islam patut diacungi jempol. Valentine’s Day yang berbau syirik pun bisa terbungkus dan terpoles rapi dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki kekuatan Ilmu agama.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Sesungguhnya cinta dalam Valentine’s Day hanyalah cinta semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Oleh karenanya, perhatikanlah bagaimana Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh para pemuka Islam melainkan juga oleh pemuka agama-agama lainnya. Di India misalnya, pernah diberitakan bahwa sejumlah aktivis dan pemuka agama Hindu berkumpul di Bombay pada Sabtu, 14 Februari 2004. Dengan lantang mereka menyerukan agar tidak ikut-ikutan merayakan Hari Valentine yang menganjurkan dekadensi moral dan merusak tradisi India. Seorang aktivis berteriak: “Valentine’s Day bukan bagian dari kepribadian dan tradisi agama kita. Selain itu, apa yang diajarkan oleh Valentine’s day itu sungguh-sungguh akan merusak tatanan nilai dan norma kehidaupan bermasyarakat warga India. Janganlah ikut-ikutan Barat!!” [ Kantor Berita <em>Reuters </em>12 Februari 2005]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Kesimpulan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Valentine’s Day merupakan hari raya orang kafir yang penuh kesyirikan. Tidak boleh umat Islam ikut-ikutan merayakannya, dan membantu memeriahkannya dengan memperdagangkan alat-alat yang digunakan. Wajib umat Islam menghindari kemurkaan Alloh. <em>Allohu A’lam. </em>[]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">[Sumber: Majalah Al Furqon, edisi 6 th. Ke-8, Muhorram 1430 H (Jan. '09). Dicuplik dari http://abusalma.wordpress.com/ ]</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/aqidah-manhaj/'>Aqidah &amp; Manhaj</a>, <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/bantahan/'>Bantahan</a>, <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/nasehat/'>Nasehat</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/535/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=535&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2010/02/12/kabut-beracun-itu-bernama-valentine%e2%80%99s-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikut Shalat Berjama&#8217;ah Ketika Imam Sedang Ruku&#8217;, Apakah Bertakbir Untuk Takbiratul Ikhram Atau Ruku&#8217;</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2010/02/12/ikut-shalat-berjamaah-ketika-imam-sedang-ruku-apakah-bertakbir-untuk-takbiratul-ikhram-atau-ruku/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2010/02/12/ikut-shalat-berjamaah-ketika-imam-sedang-ruku-apakah-bertakbir-untuk-takbiratul-ikhram-atau-ruku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 01:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya masuk masjid dan saat itu jama&#8217;ah sedang ruku&#8217;. Apakah dalam keadaan seperti ini, saya harus membaca takbiratul ikhram dan takbir ruku&#8217; (membaca dua takbir?). Dan haruskan saya membaca do&#8217;a isftitah. Jawab. Apabila seorang muslim masuk masjid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=531&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya masuk masjid dan saat itu jama&#8217;ah sedang ruku&#8217;. Apakah dalam keadaan seperti ini, saya harus membaca takbiratul ikhram dan takbir ruku&#8217; (membaca dua takbir?). Dan haruskan saya membaca do&#8217;a isftitah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawab.<br />
Apabila seorang muslim masuk masjid dan imam sedang ruku&#8217;, maka dia harus ikut ruku bersama imam dengan dua kali takbir, yaitu takbiratul ihram kemudian dia berhenti, lalu takbir untuk ruku&#8217; ketika dia membungkukkan badannya untuk ruku&#8217;. Dan dalam keadaan seperti ini, dia tidak usah membaca doa iftitah dan Al-Fatihah karena sempitnya waktu.<span id="more-531"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini dia terhitung mendapat satu raka&#8217;at. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah As-Saqafi Radhiyallahu &#8216;anhu di dalam Shahih Bukhari.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bahwa pada suatu hari dia masuk masjid dan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (beserta para jama&#8217;ah) sedang ruku&#8217;. Lalu Abu Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu ruku&#8217; sebelum sampai shaf. Kemudian (sambil ruku&#8217;) dia berjalan menuju shaf. (setelah selesai shalat) Nabi bersabda kepadanya ; Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menambah semangatmu (dalam kebaikan) tapi jangan diulang lagi&#8221; [HR Abu Dawud : 586]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ternyata Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menyuruh Abu Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu menambah satu rakaat lagi. Hal ini menunjukkan bawha orang yang masuk dalam shalat jama&#8217;ah ketika imam sedang ruku&#8217;, dia dihitung mendapat satu raka&#8217;at. Dan juga menunjukkan bahwa kita tidak boleh ruku&#8217; sendirian di belakang shaf. Tapi harus masuk dulu ke dalam shaf, baru kita ruku&#8217;, walaupun hal ini bisa menyebabkan kita tertinggal (dari ruku&#8217;nya imam). Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepad Abu Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menambah semangatmu (dalam kebaikan) tapi jangan diulang lagi&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala Maha Penolong</p>
<p style="text-align:justify;">ORANG YANG KHAWATIR KETINGGALAN RUKU&#8217;, BOLEHKAH MELAKUKAN TAKBIRATUL IKHRAM SEKALIGUS TAKBIR UNTUK RUKU&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz ditanya : Apa hukum tergesa-gesa ketika mau masuk ke dalam shalat jama&#8217;ah yang imamnya sedang ruku? Dan cukupkah kita mengucapkan satu kali takbir yaitu takbiratul ikhram sekaligus takbir ruku&#8217; karena waktunya yang mendesak?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban<br />
Disyari&#8217;atkan bagi seorang mukmin untuk berjalan menuju jama&#8217;ah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, walaupun saat itu imam sedang ruku&#8217;, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Jika dia masih berkesempatan mendapatkan ruku&#8217;nya imam, maka alhamdulillah. Dan jika tidak keburu, maka dia harus menambah satu raka&#8217;at lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila seorang makmum mendapatkan ruku&#8217;nya imam, maka dia dianggap mendapat satu raka&#8217;at. Inilah pendapat yang benar dari jumhur ulama. Dan dalam keadaan seperti ini, dia tidak wajib membaca Al-Fatihah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah As-Saqafi Radhiyallahu &#8216;anhu. (sebagaimana terdapat dalam soal di atas, pent).</p>
<p style="text-align:justify;">Jika diperkirakan dia akan ketinggalan dari ruku&#8217;nya imam, maka dia boleh takbir sekali saja (takbiratul ikhram sekaligus takbir ruku&#8217;). Tapi yang lebih baik dan lebih utama adalah takbir dua kali (takbiratul ikhram dan takbir ruku&#8217;). Dengan cara seperti ini dia bisa keluar dari perselisihan diantara para ulama, yaitu para ulama yang mewajibkan takbiratul ikhram dan takbir untuk ruku&#8217;. Dan juga para ulama yang mewajibkan takbiratul ikhram ketika berdiri sebelum ruku&#8217;. Karena takbiratul ikhram wajib dikerjakan pada waktu berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala Maha Penolong.</p>
<p style="text-align:justify;">MEMBACA AL-FATIHAH LEBIH PENTING DARIPADA DO&#8217;A IFTITAH</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz ditanya : Apabila saya ikut shalat jama&#8217;ah ketika imam sebentar lagi akan ruku&#8217;. Dalam keadaan seperti ini, apa yang harus saya baca? Do&#8217;a iftitah atau Al-Fatihah? Dan ketika imam ruku&#8217; sementara saya belum selesai membaca Al-Fatihah, apa yang harus saya lakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban<br />
Membaca do&#8217;a istiftah hukumnya sunnah sedangkan membaca Al-Fatihah hukumnya wajib. Demikianlah pendapat para ulama yang lebih shahih. Oleh karena itu jika anda hanya punya sedikit waktu, maka bacalah Al-Fatihah saja. Jika Al-Fatihah anda belum selesai sementara imam sudah ruku&#8217;, maka segeralah ruku&#8217; bersama imam dan tinggalkan sisa Al-Fatihah yang belum anda baca. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka janganlah kalian menyelisihi imam. Jika imam takbir, maka bertakbirlah kalian. Dan jika imam ruku&#8217;, maka ruku&#8217;lah kalian&#8221;[HR Bukhari 680 dan Muslim 622]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.almanhaj.or.id/"><span style="text-decoration:underline;">www.almanhaj.or.id</span></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/fatawa/'>Fatawa</a>, <a href='http://abdulloh.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/531/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=531&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2010/02/12/ikut-shalat-berjamaah-ketika-imam-sedang-ruku-apakah-bertakbir-untuk-takbiratul-ikhram-atau-ruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Info Kajian: “Tabligh Akbar Ulama Madinah An-Nabawiyah” (Jakarta, 17 Januari 2010)</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2010/01/10/info-kajian-%e2%80%9ctabligh-akbar-ulama-madinah-an-nabawiyah%e2%80%9d-jakarta-17-januari-2010/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2010/01/10/info-kajian-%e2%80%9ctabligh-akbar-ulama-madinah-an-nabawiyah%e2%80%9d-jakarta-17-januari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 14:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[Info Kajian:Hadirilah Tabligh Akbar bersama Syaikh Prof.Dr. Abdur Rozzaq Abdul Muhsin Al Badr (Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana di Fakultas Aqidah &#38; Ushuluddin Universitas Islam Madinah) Insya Allah akan diselenggarakan dengan informasi sebagai berikut : Tema : Sebab-sebab Datangnya KebahagiaanWaktu : Ahad,17 januari 2010 / 1 Shafar 1431 H Jam : 09.00 Wib – [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=524&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="p-con">
<p><a href="http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2009/12/17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2652" title="17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n" src="http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2009/12/17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n.jpg?w=423&#038;h=604&#038;h=604" alt="" width="423" height="604" /></a></p>
<p><span id="more-2640"> </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Info Kajian:<span id="more-524"></span>Hadirilah Tabligh Akbar bersama</p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Syaikh Prof.Dr. Abdur Rozzaq Abdul Muhsin Al Badr</p>
<p></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">(Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana di Fakultas Aqidah &amp; Ushuluddin Universitas Islam Madinah)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Insya Allah akan diselenggarakan dengan informasi sebagai berikut :</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Tema : <strong>Sebab-sebab Datangnya Kebahagiaan</strong>Waktu :<strong><span style="color:#ff0000;"> Ahad,17 januari 2010</span> </strong>/ 1 Shafar 1431 H</p>
<p>Jam :<strong> 09.00 Wib – Dzuhur</strong></p>
<p>Tempat : <strong>Masjid Istiqlal Jakarta</strong></p>
<p></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Kajian Terbuka untuk Umum bagi kaum Muslimin dan Muslimat</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Informasi : </span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">(021) 7073.6543</span></li>
<li><span style="color:#000000;">(021) 4028.6638</span></li>
<li><span style="color:#000000;">081.2105.5891</span></li>
<li><span style="color:#000000;">0852.8407.7968</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Ajaklah seluruh keluarga, handai taulan serta karib kerabat anda.Acara ini diselenggarakan oleh <span style="color:#ff0000;"><strong>Radio Rodja 756 AM</strong></span></p>
<p></span></p>
</blockquote>
</div>
<br />Posted in Kajian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/524/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/524/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=524&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2010/01/10/info-kajian-%e2%80%9ctabligh-akbar-ulama-madinah-an-nabawiyah%e2%80%9d-jakarta-17-januari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2009/12/17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n.jpg?w=423&#38;h=604" medium="image">
			<media:title type="html">17368_272850682787_543177787_4392492_6872156_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/31/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/31/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 15:04:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=521&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Alhamdulillah.</em> Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad<em>, </em>keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1737"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sejarah Tahun Baru Masehi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]<span id="more-521"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”</em>[2]</p>
<p style="text-align:justify;">Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan penjelasan <em>Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’</em>, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:</p>
<p>Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.</li>
<li>Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.</li>
<li>Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau</li>
<li> Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,
<p>مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ<strong> </strong></p>
<p>“<em>Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.</em>” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-, “<em>Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?</em>” Beliau  menjawab, “<em>Selain mereka, lantas siapa lagi?</em>“[4]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ  فَمَنْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.”</em> Kami (para sahabat) berkata, <em>“Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”</em> Beliau menjawab, “<em>Lantas siapa lagi?”</em> [5]</p>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi -<em>rahimahullah</em>- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan <em>syibr</em> (sejengkal) dan <em>dziro’</em> (hasta) serta lubang <em>dhob</em> (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatlah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (<em>tasyabbuh</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”</em> [7]</p>
<p style="text-align:justify;">Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Ketiga:</strong><strong> Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. <em>“Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”</em>, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang mengatakan, <em>“Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,</p>
<p style="text-align:justify;">وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Mas’ud lantas berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.</em>” [9]</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan M</strong><strong>engucapkan Selamat Tahun Baru </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah <span style="text-decoration:underline;">sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama</span>. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah <em>Ta’ala</em>.”[10]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. <em>Na’udzu billahi min dzalik.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qoyyim -<em>rahimahullah</em>- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi –<em>rahimahullah</em>- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir</em>.”[13] <strong>Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam.</strong> Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam</em>.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i</strong> dibenci oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya</em>.”[15]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari <em>ikhtilath </em>(campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan  jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian</em>.”[17]<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain</em>.”[18]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah <em>Ta’ala</em> telah berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”</em> (Qs. Al Isro’: 26-27)</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros  dengan mengatakan: <em>“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”</em> <strong>Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,</p>
<p style="text-align:justify;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”</em> [21]</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. <strong>Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]</p>
<p style="text-align:justify;">Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?”</em> (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.”</em> (Qs. Hud: 88)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel www.muslim.or.id</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<div id="ftn1">[1]     Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru</div>
<div id="ftn2">[2]    HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></div>
<div id="ftn3">[3]<em> Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta</em>‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.</div>
<div id="ftn4">[4]    HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.</div>
<div id="ftn5">[5]    HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.</div>
<div id="ftn6">[6]<em> Al Minhaj Syarh Shohih Muslim</em>, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.</div>
<div id="ftn7">[7]    HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam <em>Iqtidho</em>‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>jayid</em>/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih</em> sebagaimana dalam <em>Irwa’ul Gholil</em> no. 1269.</div>
<div id="ftn8">[8]    Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim</em>, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.</div>
<div id="ftn9">[9]    HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).</div>
<div id="ftn10">[10]<em> Ahkam Ahli Dzimmah</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.</div>
<div id="ftn11">[11]   <em>Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha</em>, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad</div>
<div id="ftn12">[12] <em> Al Kaba’ir</em>, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.</div>
<div id="ftn13">[13]   HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat <em>Misykatul Mashobih</em> no. 574</div>
<div id="ftn14">[14]  HR. Muslim no. 1163</div>
<div id="ftn15">[15]   HR. Bukhari no. 568</div>
<div id="ftn16">[16]  Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.</div>
<div id="ftn17">[17]   HR. Muslim no. 6925</div>
<div id="ftn18">[18]  HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41</div>
<div id="ftn19">[19]  Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah</div>
<div id="ftn20">[20]  Lihat <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27</div>
<div id="ftn21">[21]   HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi</em> mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih</em>.</div>
<div id="ftn22">[22]  <em>Al Fawa’id</em>, hal. 33</div>
<div id="ftn23" style="text-align:justify;">[23]  Lihat <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.</div>
</div>
<br />Posted in Aqidah &amp; Manhaj  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=521&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/31/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menjamak Shalat Bagi Selain Musafir?</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/30/bolehkah-menjamak-shalat-bagi-selain-musafir/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/30/bolehkah-menjamak-shalat-bagi-selain-musafir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 13:59:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pernah shalat di Madinah sebanyak tujuh dan delapan rakaat yaitu Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’. Dalam salah satu riwayat Muslim, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar secara jamak di kota Madinah padahal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=519&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah pernah shalat di Madinah sebanyak tujuh dan delapan rakaat yaitu Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam salah satu riwayat Muslim, dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengerjakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar secara jamak di kota Madinah padahal tidak ada ketakutan, tidak pula sedang bepergian”.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu az Zubair mengatakan bahwa aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang mengapa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berbuat demikian. Kata Sa’id, “Hal itu sudah kutanyakan kepada Ibnu Abbas. Jawaban Ibnu Abbas, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ingin untuk tidak  menyusahkan satupun dari umatnya’.<span id="more-519"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat Muslim yang lain, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ di Madinah padahal tidak ada rasa takut, tidak pula ada hujan” (HR Bukhari no 522 dan Muslim no 705).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kandungan Hadits</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini merupakan dasar pokok <span style="text-decoration:underline;">disyariatkannya shalat jamak bagi bukan musafir</span>. Sejumlah ulama berpendapat dengan makna tekstual hadits tersebut. Oleh karena itu, mereka berpendapat bolehnya menjamak shalat ketika tidak bepergian karena ada kebutuhan apapun bentuk kebutuhan tersebut namun dengan syarat tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Sirin, Rabi’ah, Asyhab, Ibnul Mundzir dan al Qoffal al Kabir. Menurut penjelasan al Khatabi hal ini juga merupakan pendapat sejumlah ulama pakar hadits (<em>Fathul Bari </em>2/24).</p>
<p style="text-align:justify;">Secara langsung hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjamak shalat di kota Madinah tanpa udzur. Sedangkan secara tidak langsung hadits di atas menunjukkan bahwa rasa takut, hujan dan bepergian merupakan faktor-faktor yang membolehkan untuk menjamak shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak terdapat penjelasan valid tentang sebab Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamak shalat sebagaimana dalam hadits di atas selain penjelasan Ibnu Abbas ‘<em>Nabi ingin untuk tidak menyusahkan satupun dari umatnya</em>’. Kaedah mengatakan bahwa seorang perawi itu lebih tahu tentang maksud hadits yang dia riwayatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Syafii mengatakan, “Tentang masalah ini terdapat banyak pendapat. Di antaranya adalah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjamak shalat di Madinah dengan tujuan memberi kelonggaran untuk umatnya sehingga tidak ada seorangpun yang berat hati untuk menjamak shalat pada satu kondisi”. Setelah itu beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">” وليس لأحد أن يتأوّل في الحديث ما ليس فيه “</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengotak atik hadits dengan hal yang tidak terdapat di dalamnya</em>” (<em>Al Umm</em> 7/205).</p>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi mengatakan, “Pendapat ini dikuatkan oleh makna eksplisit dari pernyataan Ibnu Abbas, ‘Nabi ingin agar tidak menyusahkan umatnya’. Ibnu Abbas tidak memberikan alasan karena sakit atau faktor yang lain” (5/219).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam salah satu riwayat Bukhari, Ayub bertanya, “<em>Boleh jadi malam itu turun hujan?</em>”. Gurunya mengatakan, “Boleh jadi”.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar mengatakan, “Kemungkinan karena faktor hujan juga dilontarkan oleh Malik setelah meriwayatkan hadits di atas. … Akan tetapi dalam riwayat Muslim dan Ashabus Sunan disebutkan ‘<em>padahal tidak ada rasa takut, tidak pula ada hujan</em>’. Sehingga jelaslah bahwa jamak tersebut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lakukan bukan karena rasa takut, bepergian atau karena hujan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamak shalat ketika itu mungkin karena faktor sakit. Inilah pendapat yang dipilih oleh An Nawawi. Akan tetapi, jika dicermati secara seksama pendapat ini juga tetap kurang tepat. Jika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjamak shalat karena sakit, berarti para shahabat yang shalat bersama beliau hanya para shahabat yang sedang sakit saja. Padahal secara eksplisit Nabi menjamak shalat dengan semua shahabat sebagaimana penegasan yang disampaikan oleh Ibnu Abbas”.</p>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi juga mengatakan, “Ada ulama yang menjelaskan bahwa ketika itu ada mendung lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengerjakan shalat Zhuhur. Setelah mendung hilang misalnya diketahui bahwa waktu Ashar sudah tiba. Akhirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lanjutkan dengan shalat Ashar”. Komentar An Nawawi terhadap pendapat ini, “Ini adalah pendapat yang mengada-ada. Meski ada sedikit kemungkinan untuk menerima pendapat ini untuk memahami shalat jamak yang Nabi lakukan untuk shalat Zhuhur dan Ashar. Namun kemungkinan ini jelas tertolak untuk shalat Maghrib dan Isya” (Fathul Bari 2/30).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jamak Shuri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada ulama yang memahami jamak dalam hadits di atas dengan <em>jamak shuri</em>. Akan tetapi pendapat ini tertolak dengan perkataan perawi, ‘<em>Nabi ingin tidak menyulitkan seorangpun dari umatnya</em>’.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar berkata, “Keinginan Nabi untuk menghilangkan kesusahan dari umatnya adalah bantahan terhadap yang mengatakan bahwa jamak tersebut adalah <em>jamak shuri</em>. Karena jamak shuri itu tidak bisa lepas dari kesulitan” (Fathul Bari 2/31).</p>
<p style="text-align:justify;">Jamak shuri adalah menunda pelaksaan shalat zhuhur -misalnya- sampai di akhir waktunya lalu shalat ashar dikerjakan pada awal waktunya. Nampaknya jamak padahal masing-masing shalat tetap dikerjakan pada waktunya masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jamak karena Sakit</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sakit adalah alasan yang bisa dibenarkan untuk menjamak shalat. Ketika seorang yang sakit kesulitan untuk shalat di waktunya masing-masing maka dibolehkan baginya untuk menjamak shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama bersilang pendapat mengenai shalat jamak bagi orang yang sakit baik ketika bepergian ataupun tidak. Sejumlah ulama membolehkan orang sakit untuk menjamak shalat di antaranya adalah Atha’ bin Abi Rabah. Tentang orang sakit Malik mengatakan, “Jika lebih mudah baginya untuk menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar di tengah-tengah waktu Zhuhur maka hal tersebut dibolehkan kecuali jika dia khawatir akan jatuh pingsan sebelum itu maka boleh menjamak setelah zawal/setelah matahari bergeser ke barat. Demikian untuk shalat Maghrib dan Isya’, jamak dilakukan ketika awan merah telah menghilang. Akan tetapi jika si sakit khawatir akan jatuh pingsan maka boleh menjamak shalat sebelum itu. Jamak bagi orang sakit itu hanya dibolehkan bagi orang yang sakit perut atau sakit semisal itu atau orang yang sakitnya parah yang dengan menjamak shalat itu lebih memudahkannya” (<em>Al Ausath</em> 2/434 dan <em>al Istidzkar</em> karya Ibnu Abdil Barr 6/36-37).</p>
<p style="text-align:justify;">Al Laits mengatakan bahwa jamak shalat itu dibolehkan bagi orang yang sakit secara umum dan sakit perut secara khusus. Abu Hanifah mengatakan bahwa orang yang sakit itu dibolehkan untuk menjamak shalat sebagaimana jamak yang dilakukan oleh seorang musafir. Ahmad dan Ishaq juga menegaskan bahwa orang yang sakit itu boleh menjamak shalat (<em>Al Istidzkar </em>6/37).</p>
<p style="text-align:justify;">Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama dari kalangan tabi’in membolehkan orang sakit untuk menjamak shalat. Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq. Sebagian ulama juga membolehkan menjamak shalat karena hujan. Inilah pendapat Syafii, Ahmad dan Ishaq. Akan tetapi Syafii tidak membolehkan shalat jamak bagi orang yang sakit” (<em>Jami’ Tirmidzi</em> 1/357).</p>
<p style="text-align:justify;">Sakit yang membolehkan untuk menjamak shalat adalah jika si sakit akan kesulitan dan fisik tidak mampu untuk mengerjakan shalat pada waktunya masing-masing. Al Atsram mengatakan bahwa Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad pernah ditanya apakah orang yang sakit dibolehkan untuk menjamak shalat. Jawaban Imam Ahmad, “Aku harap demikian jika fisiknya lemah dan tidak mampu mengerjakan shalat kecuali dengan cara demikian. Demikian pula dibolehkan menjamak shalat bagi wanita yang mengalami istihadhah, orang yang terkena penyakit beseren dan orang yang keadaannya sebagaimana mereka” (<em>Mughni </em>3/136).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits-hadits seluruhnya menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamak shalat dengan tujuan menghilangkan kesempitan dari umatnya. Oleh karena itu, maka dibolehkan untuk menjamak shalat dalam kondisi yang jika tidak jamak maka seorang itu akan berada dalam posisi sulit padahal kesulitan adalah suatu yang telah Allah hilangkan dari umat ini. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa jamak karena sakit yang si sakit akan merasa kesulitan jika harus shalat pada waktunya masing-masing adalah suatu hal yang lebih layak lagi. Demikian pula dibolehkan untuk menjamak shalat bagi seorang yang tidak memungkinkan untuk melakukan bersuci yang sempurna di masing-masing waktu shalat kecuali dengan kerepotan semisal wanita yang mengalami <em>istihadhah </em>dan kasus-kasus semisal itu” (<em>Majmu’ Fatawa </em>24/84).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyyah berkata, “Orang yang menjamak shalat karena safar apakah dia diperbolehkan menjamak secara mutlak ataukah jamak itu hanya khusus bagi musafir. Imam Ahmad dalam masalah ini memiliki dua pendapat baik ketika bepergian ataupun tidak bepergian. Oleh karena itu, Imam Ahmad menegaskan bolehnya jamak karena adanya kesibukkan (yang merepotkan untuk shalat pada waktunya masing-masing).</p>
<p style="text-align:justify;">Al Qadhi Abu Ya’la mengatakan, ‘<span style="text-decoration:underline;">Semua alasan yang menjadi sebab bolehnya meninggalkan shalat Jumat dan shalat jamaah adalah alasan yang membolehkan untuk menjamak shalat</span>. Oleh karena itu, boleh menjamak shalat karena hujan, lumpur yang menghadang di jalan, angin yang kencang membawa hawa dingin menurut zhahir pendapat Imam Ahmad. Demikian pula dibolehkan menjamak shalat bagi orang sakit, wanita yang mengalami istihadhah dan wanita yang menyusui (yang harus sering berganti pakaian karena dikencingi oleh anaknya)” (<em>Majmu Fatawa</em> 24/14).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ustadzaris.com/bolehkah-menjamak-shalat-bagi-selain-musafir">Sumber</a></p>
<br />Posted in Fiqh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=519&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/30/bolehkah-menjamak-shalat-bagi-selain-musafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Ejek Saudaramu</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/30/jangan-ejek-saudaramu/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/30/jangan-ejek-saudaramu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 13:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq & Adab Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ Yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=517&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align:center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p style="text-align:center;">Yang artinya, “<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim</em>” (QS al Hujurat:11).<span id="more-517"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1132"> </span></p>
<p>Terkait dengan ayat ada dua catatan kaki yang ada dalam terjemah DEPAG RI yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Jangan mencela dirimu sendiri, maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti hai fasik, hai kafir dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ahmad ash Shawi al Maliki mengatakan, “Makna ayat adalah janganlah seorang itu mengolok-olok yang lain karena boleh jadi pihak yang diolok-olok itu lebih agung dan mulia dibandingkan pihak yang mengolok-olok. Ringkasnya tidaklah pantas muslim mengolok-olok saudaranya seagama bahkan semua makhluk ciptaan Allah. Boleh jadi yang diolok-olok itu lebih hatinya lebih ikhlas dan lebih bertakwa dibandingkan yang mengolok-olok. Para  salaf shalih sangat luar biasa dalam melaksanakan kandungan ayat ini. Ada salah seorang salaf yang mengatakan, ‘<em>Jika aku melihat seorang yang menetek pada anak kambing lalu aku mentertawakannya tentu aku merasa khawatir andai aku melakukan apa yang dia lakukan</em>’.</p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘<em>Bencana itu terjadi gara-gara ucapan lisan. Andai aku mengolok-olok seekor anjing tentu aku khawatir kalau aku diubah menjadi seekor anjing</em>’ (Hasyiyah ash Showi ‘ala Tafsir al Jalalain 4/143, terbitan Dar al Fikr).</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Abdurrahman as Sa’di mengatakan, “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang sebagian hak seorang mukmin dengan mukmin yang lain. Yaitu janganlah sekelompok orang mengejek sekelompok yang lain baik dengan kata-kata ataupun perbuatan yang mengandung makna merendahkan saudara sesama muslim. Perbuatan ini terlarang dan hukumnya <strong>haram</strong>. Perbuatan ini menunjukkan bahwa orang yang mengejek itu merasa kagum dengan dirinya sendiri. Padahal boleh jadi pihak yang diejek itu malah lebih baik dari pada pihak yang mengejek. Bahkan inilah realita yang sering terjadi. Mengejek hanyalah dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang tercela dan hina serta kosong dari akhlak mulia. Oleh karena itu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Cukuplah seorang itu dinilai jahat jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim</em>” (HR Muslim dari Abu Hurairah)” [Taisir al Karim al Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan hal 953, terbitan Dar Ibnul Jauzi].</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata, “Jika telah diketahui bahwa manusia itu bertingkat-tingkat. Di antaranya manusia itu bertingkat-tingkat dalam masalah ilmu. Sebagian orang itu lebih berilmu daripada yang lain dalam ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu alat yang sangat membantu untuk mengusai ilmu agama semisal ilmu-ilmu tentang bahasa Arab sebagaimana nahwu, balaghah dan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia itu juga bertingkat-tingkat dalam masalah rizki. Ada yang diberi rezki yang melimpah. Ada pula yang diberi rezki pas-pasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia juga bertingkat-tingkat dalam akhlak. Ada yang memiliki akhlak luhur dan mulia, ada pula yang tidak demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia juga bertingkat-tingkat dalam masalah bentuk fisik. Ada yang fisiknya sempurna, ada juga yang tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia juga bertingkat-tingkat dalam masalah status sosial. Ada yang status sosialnya tinggi, ada pula yang biasa-biasa saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah seseorang diperbolehkan untuk mengejek orang yang lebih rendah dalam berbagai hal di atas?</p>
<p>Jawabannya adalah firman Allah di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah memanggil kita dengan nama iman agar sebagian dari kita tidak mengejek sebagian yang lain. Yang melebihkan sebagian orang atas yang lainnya adalah Allah. <strong>Sehingga konsekuensi dari mengejek orang yang lebih rendah adalah mengejek takdir Allah</strong>.</p>
<p>Hal ini diisyaratkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ ».</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “<em>Janganlah kalian mencela waktu karena Allahlah yang mengatur berjalannya waktu</em>” (HR Muslim no 6003).</p>
<p style="text-align:justify;">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ».</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, Allah berfirman, “<em>Manusia menyakitiku. Manusia mencaci waktu padahal aku adalah pengatur waktu. Akulah yang memperjalankan malam dan siang</em>” (HR Bukhari no 4549 dan Muslim no 6000).</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa kita ejek orang yang lebih rendah dibandingkan kita dalam masalah ilmu agama, harta, akhlak, kondisi fisik, status sosial, dan nasab? Bukankah di samping Allahlah yang memberikan anugrah kepada kita, Dia juga yang menakdirkannya untuk berada di bawah kita, dalam pandangan kita, dalam banyak hal?</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa Allah melarang kita mengejek orang lain?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya adalah betapa banyak orang yang pada saat ini mengejek orang lain, dalam lain kesempatan menjadi bahan ejekan. Betapa banyak orang yang saat ini pada posisi ‘berada’, esok hari berada pada posisi orang papa. Ini adalah suatu hal yang bisa kita saksikan dalam realita.</p>
<p style="text-align:justify;">عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ ». قَالَ أَحْمَدُ مِنْ ذَنْبٍ قَدْ تَابَ مِنْهُ.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Siapa saja yang mencela saudaranya sesama muslim karena sebab dosa yang pernah dia lakukan maka orang yang mencela tersebut tidak akan mati sampai melakukannya</em>”.<strong> [*]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ahmad bin Mani’, salah seorang perawi hadits, “<em>Yang dimasudkan adalah dosa yang pelakunya telah bertaubat darinya</em>” (HR Tirmidzi no 2505 namun dinilai oleh al Albani sebagai hadits palsu).</p>
<p style="text-align:justify;">عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ ».</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Watsilah bin al Asqa’, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Janganlah engkau menampakkan rasa gembira saat saudaramu sesama muslim menderita kesusahan. Hal itu menjadi sebab Allah menyayanginya dan menimpakan cobaan pada dirimu</em>” (HR Tirmidzi no 2506. Hadits ini dinilai hasan gharib oleh Tirmidzi namun dinilai lemah oleh al Albani).</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah kewajiban setiap orang untuk mempraktekkan adab yang telah Allah ajarkan” (Tafsir Surat al Hujurat sampai al Hadid hal 37-38, terbitan Dar Tsuraya).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[*]</strong> Ibnul Jauzi dalam <em>Mawdhu’at</em> (3/277) mengatakan bahwa hadits ini <em>tidak shahih</em>. Ash Shoghoni dalam <em>Mawdhu’at</em>-nya (45) mengatakan bahwa hadits ini <em>mawdhu’</em>. Adz Dzahabi dalam <em>Tartib Al Mawdhu’at </em>(245) mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Muhammad bin Al Hasan bin Abi Yazid dan ia perowi <em>matruk</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ustadzaris.com/jangan-ejek-saudaramu">Sumber</a></p>
<br />Posted in Akhlaq &amp; Adab Islami  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/517/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=517&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/12/30/jangan-ejek-saudaramu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam Tidak Pernah Shalat Tarawih Melebihi Sebelas Raka&#8217;at</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-shalat-tarawih-melebihi-sebelas-rakaat/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-shalat-tarawih-melebihi-sebelas-rakaat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 15:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH SHALAT TARAWIH MELEBIHI SEBELAS RAKA&#8217;AT Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Setelah kita menetapkan, disyariatkannya berjama&#8217;ah dalam shalat tarawih berdasarkan ketetapan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka sudah seharusnya kami jelaskan juga beberapa jumlah raka&#8217;at yang dilaksanakan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=509&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH SHALAT TARAWIH MELEBIHI SEBELAS RAKA&#8217;AT</p>
<p style="text-align:center;">Oleh:<br />
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita menetapkan, disyariatkannya berjama&#8217;ah dalam shalat tarawih berdasarkan ketetapan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka sudah seharusnya kami jelaskan juga beberapa jumlah raka&#8217;at yang dilaksanakan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada malam-malam yang beliau hidupkan bersama para sahabat. Dan perlu diketahui, bahwa dalam hal ini kami memiliki dua dalil.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Pertama :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abi Salamah bin Abdir-Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha tentang bagaimana shalat Rasulullah Shallallahu &#8216;alihi wa sallam di bulan Ramadhan ? Beliau menjawab : &#8220;Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka&#8217;at[1] . Beliau shalat empat raka&#8217;at[2] ; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka&#8217;at, jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka&#8217;at.<span id="more-509"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits tersebut diatas, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (III : 25, IV : 205), Muslim (II : 166), Abu &#8216;Uwanah (II : 327), Abu Dawud (I : 210), At-Tirmidzi (II : 302-303 cetakan Ahmad Syakir), An-Nasa&#8217;i (I : 248), Malik (I : 134), Al-Baihaqi (II : 495-496) dan Ahmad (VI : 36,73, 104).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Kedua :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu &#8216;anhu bahwa beliau menuturkan : &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan raka&#8217;at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau disitu hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya : &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami&#8221;. Beliau menjawab : &#8220;Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) shalat itu menjadi wajib atas dirimu&#8221;. [Diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 90), Ath-Thabrani dalam "Al-Mu'jamu Ash-Shagir" (hal 108). Dengan hadits yang sebelumnya, derajatnya hadist ini hasan. Dalam "Fathul Bari" demikian juga dalam "At-Talkhish" Al-Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan bahwa hadits itu shahih, Namun beliau menyandarkan hadits itu kepada Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah masing-masing dalam Shahih-nya].</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits Tarawih Dua Puluh Raka&#8217;at Dha&#8217;if Sekali dan Tidak Dapat Dijadikan Hujjah Untuk Beramal</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam &#8220;Fathul Bari&#8221; (IV : 205-206) Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits yang pertama, beliau menyatakan : &#8220;Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan dua puluh raka&#8217;at ditambah witir, sanad hadist ini adalah dha&#8217;if. Hadits &#8216;Aisyah yang disebut dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim ini juga bertentangan dengan hadits itu, padahal &#8216;Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk beluk kehidupan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya&#8221;. Pendapat serupa juga telah lebih dahulu diungkapkan oleh Az-Zailai&#8217; dalam &#8220;Nashbu ar-Rayah&#8221; (II : 153).</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : &#8220;Hadits Ibnu Abbas ini dha&#8217;if sekali, sebagaimana dinyatakan oleh As-Suyuthi dalam &#8220;Al-Hawi Lil Fatawa&#8221; (II : 73). Adapun cacat hadits itu yang tersembunyi, adanya perawi bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman. Al-Hafizh dalam &#8220;At-Taqrib&#8221; menyatakan : &#8220;Haditsnya matruk (perawinya dituduh pendusta)&#8221;. Aku telah menyelidiki sumber-sumber pengambilan hadits itu, namun yang aku temui cuma jalannya. Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya dalam &#8220;Al-Mushannaf &#8221; (II : 90/2), Abdu bin Hamid dalam &#8220;Al-Muntakhab Minal Musnad&#8221; (43 : 1-2), Ath-Thabarani dalam &#8220;Al-Mu&#8217;jamu Al-Kabir&#8221; (III : 148/2) dan juga dalam &#8220;Al-Ausath&#8221; serta dalam &#8220;Al-Muntaqa&#8221; (edisi tersaring) dari kitab itu, oleh Adz-Dzahabi (II : 3), atau dalam &#8220;Al-Jam&#8217;u&#8221; (rangkuman) Al-Mu&#8217;jam Ash-Shaghir dalam Al-Kabir oleh penulis lain (119 : I), Ibnu &#8216;Adiy dalam &#8220;Al-Kamil&#8221; (I : 2), Al-Khatib dalam &#8220;Al-Muwaddhih&#8221; (I : 219) dan Al-Baihaqi dalam &#8220;Sunan&#8221;-nya (II : 496). Seluruhnya dari jalur Ibrahim (yang tersebut) tadi, dari Al-Hakam, dari Muqsim, dari Ibnu Abbas hanya melalui jalan ini&#8221;. Imam Al-Baihaqi juga menyatakan : &#8220;Hadits ini hanya diriwayatkan melalui Abu Syaibah, sedangkan ia perawi dha&#8217;if &#8220;. Demikian juga yang dinyatakan oleh Al-Haitsami dalam &#8220;Majmu&#8217; Az-Zawaid&#8221; (III : 172) bahwa ia perawi yang dha&#8217;if. Kenyataannya, ia malah perawi yang dha&#8217;if sekali, seperti diisyaratkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar tadi bahwa ia Matrukul hadits (ditinggal haditsnya karena dituduh berdusta). Inilah yang benar, seperti juga dinyatakan oleh Ibnu Ma&#8217;in : &#8220;Ia sama sekali tak bisa dipercaya&#8221;. Al-Jauzajani menyatakan : &#8220;Jatuh martabatnya&#8221; (celaan yang keras). Bahkan Syu&#8217;bah menganggapnya berdusta dalam satu kisah. Imam Al-Bukhari berkomentar :&#8221;Dia tak dianggap para ulama&#8221;. Padahal Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam &#8220;Ikhti-shar &#8216;Ulumi Al-Hadits&#8221; (hal 118) :&#8221;Orang yang dikomentari oleh Al-Bukhari dengan ucapan beliau seperti tadi, berarti sudah terkena celaan yang paling keras dan buruk, menurut versi beliau&#8221;. Oleh sebab itu, saya menganggap hadits ini dalam kategori Hadits Maudhu&#8217; alias palsu. Disebabkan (disamping kelemahannya) ia bertentangan dengan hadits &#8216;Aisyah dan Jabir yang terdahulu sebagaimana tadi diungkapkan oleh Al-Hafizh Az-Zaila&#8217;i dan Al-Asqalani. Imam Al-Hafidz Adz-Dzahabi juga memaparkan hadits-haditsnya yang munkar. Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan dalam &#8220;Al-Fatawa Al-Kubra&#8221; (I : 195) setelah beliau menyebutkan hadits ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hadits ini sungguh amat dha&#8217;if ; para ulama telah bersikap keras terhadap salah seorang perawinya, dengan celaan dan hinaan. Diantara bentuk celaan dan hinaan itu (dalam kaedah ilmu hadits) : Ia perawi hadits-hadits palsu, seperti hadits yang berbunyi : &#8220;Umat ini hanya akan binasa di Aadzar (nama tempat) &#8221; juga hadits : &#8220;Kiamat itu hanya akan terjadi di Aadzar &#8220;. Hadits-hadistnya yang berkenaan dengan masalah tarawih ini tergolong jenis hadits-hadits munkarnya. Imam As-Subki itu sendiri menjelaskan bahwa (diantara) persyaratan hadist dha&#8217;if untuk dapat diamalkan adalah ; hadits itu tak terlalu lemah sekali. Imam Adz-Dzahabi menyatakan : &#8220;orang yang dianggap berdusta oleh orang semisal Syu&#8217;bah, tak perlu ditoleh lagi haditsnya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : &#8220;Apa yang dinukil beliau dari As-Subki itu mengandung isyarat lembut dari Al-Haitami bahwa beliau sendiri tak sependapat dengan mereka yang mengamalkan hadits tentang shalat tarawih 20 raka&#8217;at itu, simaklah&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, setelah beliau menyebutkan hadits Jabir dari riwayat Ibnu Hibban, Imam As-Suyuthi berkomentar : &#8220;Kesimpulannya, riwayat tarawih 20 raka&#8217;at itu tak ada yang shahih dari perbuatan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Apa yang tersebut dalam riwayat Ibnu Hibban merupakan klimaks apa yang menjadi pendapat kami, karena (sebelumnya) kami telah berpegang dengan apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha, yaitu : Bahwa beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam baik dalam bulan Ramadhan maupun dalam bulan lainnya tak pernah shalat malam melebihi 11 raka&#8217;at. Kedua hadits itu (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Bukhari) selaras, karena disebutkan disitu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat delapan raka&#8217;at, lalu menutupnya dengan witir tiga raka&#8217;at, sehingga berjumlah 11 raka&#8217;at. Satu hal lagi yang menjadi dalil, bahwa Nabi apabila mengamalkan satu amalan, beliau selalu melestarikannya. Sebagaimana beliau selalu meng-qadha shalat sunnah Dhuhur sesudah Ashar ; padahal shalat waktu itu pada asalnya haram. Seandainya beliau telah mengamalkan shalat tarawih 20 raka&#8217;at itu, tentu beliau akan mengulanginya. Kalau sudah begitu, tak mungkin &#8216;Aisyah tidak mengetahui hal itu, sehingga ia membuat pernyataan seperti tersebut tadi&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : &#8220;Ucapannya itu mengandung isyarat yang kuat bahwa beliau lebih memilih sebelas raka&#8217;at dan menolak riwayat yang 20 raka&#8217;at dari Ibnu Abbas karena terlalu lemah, coba renungkan&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih, edisi Indonesia Shalat Tarawih, Penyusun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tibyan hal. 28 - 36 Penerjemah Abu Umar Basyir Al-Maidani]</p>
<p>_________</p>
<p>Foote Note</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (II/116/1), Muslim dan lain-lain : &#8220;Shalat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain adalah tiga belas raka&#8217;at. Diantaranya dua raka&#8217;at fajar&#8221;. Namun dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Imam Malik (I : 142), juga oleh Al-Bukhari (III : 35) dan lain-lain, diceritakan bahwa &#8216;Aisyah menuturkan :&#8221;Beliau shalat pada waktu malam tiga belas raka&#8217;at. Lalu bila datang adzan subuh memanggil, beliau shalat dua raka&#8217;at yang ringan&#8221;. Al-Hafidzh Ibnu Hajar mengatakan : &#8220;Pada dzahirnya, hadits itu nampakl bertentangan dengan hadits terdahulu. Bisa jadi, &#8216;Aisyah menggabungkan dengan dua raka&#8217;at shalat sesudah Isya, karena beliau memang melakukannya di rumah. Atau mungkin juga dengan dua raka&#8217;at yang dilakukan Nabi sebagai pembuka shalat malam. Karena dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bahwa beliau memang memulai shalat malam dengan dua raka&#8217;at ringan. Dan yang kedua ini lebih kuat, menurut hemat saya. Karena Abu Salamah yang mengkisahkan kriteria shalat beliau yang tak melebihi 11 raka&#8217;at dengan empat-empat plus tiga raka&#8217;at, hal itu jelas belum mencakup dua raka&#8217;at ringan (pembuka) tadi, dua raka&#8217;at itulah yang tercakup dalam riwayat Imam Malik. Sedangkan tambahan matan hadits dari seorang hafizh (seperti Malik) bisa diterima. Pendapat ini lebih dikuatkan lagi dengan apa yang tertera pada riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari jalur riwayat Abdullah bin Abi Qais dari &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha dengan lafazh : &#8220;Beliau melakukan witir tiga raka&#8217;at setelah shalat empat raka&#8217;at ; atau tiga setelah sepuluh. Dan beliau belum pernah berwitir -plus shalat malamnya- labih dari tiga belas raka&#8217;at. Dan juga tidak pernah kurang -bersama shalat malamnya- dari tujuh raka&#8217;at. Inilah riwayat paling shahih yang berhasil saya dapatkan dalam masalah itu. Dengan demikian, perselisihan seputar hadits &#8216;Aisyah itu dapat disatukan&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : Adapun hadits Ibnu Abi Qais ini akan kembali disebutkan Insya Allah dalam bahasan &#8220;Dibolehkannya shalat malam kurang dari 11 raka&#8217;at (hal 81).</p>
<p style="text-align:justify;">Penyelesaian yang dikemukakan oleh Ibnu hajar itu ditopang oleh riwayat Imam Malik yang secara lebih rinci menyebutkan dua raka&#8217;at ringan tersebut ; yaitu dari jalur hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwasanya ia berkata : &#8220;Aku betul-betul berhasrat menyelidiki shalat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam. Beliau shalat terlebih dahulu dua raka&#8217;at ringan. Kemudian beliau shalat dua raka&#8217;at panjang, lalu dua raka&#8217;at panjang, lalu dua raka&#8217;at panjang. Dua raka&#8217;at yang kedua tidak sepanjang yang pertama. Demikian juga yang ketiga tak sepanjang yang kedua. Yang keempat juga tak sepanjang yang ketiga. Setelah itu beliau menutup dengan witir. Semuanya berjumlah tiga belas raka&#8217;at.</p>
<p style="text-align:justify;">[Diriwayatkan oleh Imam Malik (I:143-144), Muslim (II:183), Abu 'Uwanah (II:319) Abu Dawud (I:215) dan Ibnu Nashar (hal.48]</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut hemat saya, ada kemungkinan dua raka&#8217;at disitu adalah shalat sunnah sesudah Isya. Bahkan itulah yang nampak (berdasarkan hukum) secara zhahir. Karena saya belum mendapatkan satu haditspun yang menyebutkan dua raka&#8217;at itu berseiringan dengan penyebutan raka&#8217;at yang tiga belas. Bahkan sebaliknya, saya justru mendapatkan riwayat yang menopang apa yang saya perkirakan. Yaitu hadits Jabir bin Abdullah, dimana beliau menyampaikan :&#8221;Dahulu kami bersama-sama beranjak dengan Rasulullah dari Hudaibiyyah. Tatkala kami sampai di Suqya (yaitu perkampungan antara Mekkah dan Madinah), tiba-tiba beliau berhenti -dan jabir kala itu disampingnya- lalu melakukan shalat isya&#8217; kemudian setelah itu beliau shalat tiga belas raka&#8217;at&#8221; (hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 48). Hadits ini juga sebagai nash yang jelas, bahwa shalat sunnah &#8216;Isya termasuk hitungan yang tiga belas tadi. Seluruh perawi hadits tersebut tsiqah (terpercaya), selain Syurahbil bin Sa&#8217;ad. Dia memiliki kelemahan.</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Yakni dengan satu kali salam. Imam Nawawi dalam &#8221;Syarhu Muslim&#8221; menyebutkan :&#8221;Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat dengan hitungan itu. Adapun yang dikenal dari perbuatan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahkan beliau memerintahkan, yaitu agar shalat malam itu dibuat dua-dua (raka&#8217;at).</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : Yang dinyatakan oleh beliau itu sungguh benar adanya. Adapun pendapat madzhab Syafi&#8217;iyyah bahwa (Wajib kita bersalam pada setiap dua raka&#8217;at. Barangsiapa yang melakukannya dengan satu salam, maka tidak shah) sebagaimana tersebut dalam &#8220;Al-Fiqhu Ala Al-Madzahibi Al-Arba&#8217;ah&#8221; (I: 298) dan juga dalam &#8220;Syarhu Al-Qasthalani&#8221; Terhadap shahih Al-Bukhari (V : 4) dan lain-lain, pendapat itu jelas bertentangan dengan hadits shahih ini dan juga bersebrangan dengan pernyataan Imam An-Nawawi yang menyatakan dibolehkannya cara itu. Padahal beliau termasuk ulama besar dan alhi tahqiq (peneliti) dari kalangan Syafi&#8217;iyyah. maka jelas tak ada alasan bagi seseorang untuk menfatwakan hal yang sebaliknya.!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2225/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/2225/slash/0</a></p>
<br />Posted in Fatawa, Fiqh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=509&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-shalat-tarawih-melebihi-sebelas-rakaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/shalat-tarawih/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/shalat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 15:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [1]. Pensyari&#8217;atannya Shalat tarawih disyari&#8217;atkan secara berjama&#8217;ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha. &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, mereka-pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=506&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;">Oleh</div>
<div style="text-align:center;">Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly</div>
<div style="text-align:center;">Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</div>
<p style="text-align:justify;">[1]. Pensyari&#8217;atannya</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat tarawih disyari&#8217;atkan secara berjama&#8217;ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasulullah Shallalalhu &#8216;alaihi wa sallam keluar dan shalat, ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama&#8217;ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Artinya : Amma ba&#8217;du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya&#8221;<span id="more-506"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama&#8217;ah&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 3/220 dan Muslim 761]</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti  keterangan hadits diatas) maka berarti syari&#8217;at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama&#8217;ah disyari&#8217;atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan &#8216;illat telah hilang (juga). Sesungguhnya &#8216;illat itu berputar bersama ma&#8217;lulnya, adanya atau tidak adanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang menghidupkan kembali sunnah ini adalah Khulafa&#8217;ur Rasyidin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu sebagaimana dikabarkan yang demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy[1] beliau berkata : &#8220;Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok[2] Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama&#8217;ah, maka Umar berkata : &#8220;Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik&#8221;. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama&#8217;ah dengan imam Ubay bin Ka&#8217;ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, &#8220;Sebaik-baik bid&#8217;ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam&#8221;.[Dikeluarkan Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733]</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Jumlah Raka&#8217;atnya</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka&#8217;atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah delapan raka&#8217;at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Artinya : Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka&#8217;at&#8221; [Dikeluarkan oleh Bukhari 3/16 dan Muslim 736 Al-Hafidz berkata (Fath 4/54)]</p>
<p style="text-align:justify;">Yang telah mencocoki Aisyah adalah Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau menyebutkan, &#8220;Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka&#8217;at kemudian witir[3]</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka&#8217;at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata : &#8220;Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka&#8217;ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka&#8217;at&#8221;. Ia berkata : &#8220;Ketika itu imam membaca dua ratus ayat hingga kami bersandar/bertelekan pada tongkat karena lamanya berdiri, kami tidak pulang kecuali ketika furu&#8217; fajar&#8221; [4]</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat beliau ini diselisihi oleh Yazid bin Khashifah, beliau berkata : &#8220;Dua puluh raka&#8217;at&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Yazid ini syadz (ganjil/menyelisihi yang lebih shahih), karena Muhammad bin Yusuf lebih tsiqah dari Yazid bin Khashifah. Riwayat Yazid tidak bisa dikatakan ziyadah tsiqah kalau kasusnya seperti ini, karena ziyadah tsiqah itu tidak ada perselisihan, tapi hanya sekedar tambahan ilmu saja dari riwayat tsiqah yang pertama sebagaimana (yang disebutkan) dalam Fathul Mughit (1/199), Muhashinul Istilah hal. 185, Al-Kifayah hal 424-425. Kalaulah sendainya riwayat Yazid tersebut shahih, itu adalah perbuatan, sedangkan riwayat Muhammad bin Yusuf adalah perkataan, dan perkataan lebih diutamakan dari perbuatan sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh.</p>
<p style="text-align:justify;">Abdur Razaq meriwayatkan dalam Al-Mushannaf 7730 dari Daud bin Qais dan lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid : &#8220;Bahwa Umar mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, dengan dua puluh satu raka&#8217;at, membaca dua ratus ayat, selesai ketika awal fajar&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini menyelisihi yang diriwayatkan oleh Malik dari Muhamad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, dhahir sanad Abdur Razaq shahih seluruh rawinya tsiqah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang-orang yang berhujjah dengan riwayat ini, mereka menyangka riwayat Muhammad bin Yusuf mudhtharib, hingga selamatlah pendapat mereka dua puluh raka&#8217;at yang terdapat dalam hadits Yazid bin Khashifah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan mereka ini tertolak, karena hadits mudhtarib adalah hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi satu kali atau lebih, atau diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dengan lafadz yang berbeda-beda, mirip dan sama, tapi tidak ada yang bisa menguatkan (mana yang lebih kuat). [Tadribur Rawi 1/262]</p>
<p style="text-align:justify;">Namun syarat seperti ini tidak terdapat dalam hadits Muhammad bin Yusuf karena riwayat Malik lebih kuat dari riwayat Abdur Razaq dari segi hapalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami ketengahkan hal ini kalau kita anggap sanad Abdur Razaq selamat dari illat (cacat), akan tetapi kenyatannya tidak demikian (karena hadits tersebut mempunyai cacat, pent) kita jelaskan sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Yang meriwayatkan Mushannaf dari Abdur Razaq lebih dari seorang, diantaranya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Ubbad Ad-Dabari</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Hadits ini dari riwayat Ad-Dabari dari Abdur Razaq, dia pula yang meriwayatkan Kitabus Shaum [Al-Mushannaf 4/153]</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Ad-Dabari mendengar dari Abdur Razaq karangan-karangannya ketika berumur tujuh tahun [Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">[4]. Ad-Dabari bukan perawi hadits yang dianggap shahih haditsnya, juga bukan seorang yang membidangi ilmu ini [Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">[5] Oleh karena itu dia banyak  keliru dalam meriwayatkan dari Abdur Razaq, dia banyak meriwayatkan dari Abdur Razaq hadits-hadits yang mungkar, sebagian ahlul ilmi telah mengumpulkan kesalahan-kesalahan Ad-Dabari dan tashif-tashifnya dalam Mushannaf Abdur Razaq, dalam Mushannaf [Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa riwayat ini mungkar, Ad-Dabari dalam meriwayatkan hadits diselisihi oleh orang yang lebih tsiqah darinya, yang menentramkan hadits ini kalau kita nyatakan kalau hadits inipun termasuk tashifnya Ad-Dabari, dia mentashifkan dari sebelas raka&#8217;at (menggantinya menjadi dua puluh satu rakaat), dan engkau telah mengetahui bahwa dia banyak berbuat tashif [Lihat Tahdzibut Tahdzib 6310 dan Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu riwayat ini mungkar dan mushahaf (hasil tashif), sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, dan menjadi tetaplah sunnah yang shahih yang diriwayatkan di dalam Al-Muwatha&#8217; 1/115 dengan sanad Shahih dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid. Perhatikanlah.[5]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]</p>
<p style="text-align:justify;">_________</p>
<p style="text-align:justify;">Foote Note.</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Dengan tanwin (&#8216;abdin) dan (alqoriyyi) dengan bertasydid -tanpa dimudhofkan- lihat Al-Bab fi Tahdzib 3/6-7 karya Ibnul Atsir.</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Berkelompok-kelompok tidak ada bentuk tunggalnya, seperti nisa&#8217; ibil &#8230; dan seterusnya</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya.</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Furu&#8217; fajar : awalnya, permulaan</p>
<p style="text-align:justify;">[5]. Dan tambahan terperinci mengenai bantahan dari Syubhat ini, maka lihatlah :</p>
<p style="text-align:justify;">[a] Al-Kasyfus Sharih &#8216;an Aghlathis Shabun fii Shalatit Tarawih oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid</p>
<p style="text-align:justify;">[b] Al-Mashabih fii Shalatit Tarawih oleh Imam Suyuthi, dengan ta&#8217;liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, cetakan Dar&#8217;Ammar</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1151/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1151/slash/0</a></p>
<br />Posted in Fatawa, Fiqh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&amp;blog=4715811&amp;post=506&amp;subd=abdulloh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/shalat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
