<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mulia Dengan Manhaj Salaf</title>
	<atom:link href="http://abdulloh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abdulloh.wordpress.com</link>
	<description>Insya Alloh Bermanfa'at</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Aug 2009 15:20:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abdulloh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0ffe8b3cbe0c3a99577eb2e379dbf241?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mulia Dengan Manhaj Salaf</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam Tidak Pernah Shalat Tarawih Melebihi Sebelas Raka&#8217;at</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-shalat-tarawih-melebihi-sebelas-rakaat/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-shalat-tarawih-melebihi-sebelas-rakaat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 15:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH SHALAT TARAWIH MELEBIHI SEBELAS RAKA&#8217;AT
Oleh:
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Setelah kita menetapkan, disyariatkannya berjama&#8217;ah dalam shalat tarawih berdasarkan ketetapan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka sudah seharusnya kami jelaskan juga beberapa jumlah raka&#8217;at yang dilaksanakan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada malam-malam yang beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=509&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">NABI SHALLALLAHU &#8216;ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH SHALAT TARAWIH MELEBIHI SEBELAS RAKA&#8217;AT</p>
<p style="text-align:center;">Oleh:<br />
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita menetapkan, disyariatkannya berjama&#8217;ah dalam shalat tarawih berdasarkan ketetapan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka sudah seharusnya kami jelaskan juga beberapa jumlah raka&#8217;at yang dilaksanakan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada malam-malam yang beliau hidupkan bersama para sahabat. Dan perlu diketahui, bahwa dalam hal ini kami memiliki dua dalil.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Pertama :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abi Salamah bin Abdir-Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha tentang bagaimana shalat Rasulullah Shallallahu &#8216;alihi wa sallam di bulan Ramadhan ? Beliau menjawab : &#8220;Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka&#8217;at[1] . Beliau shalat empat raka&#8217;at[2] ; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka&#8217;at, jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka&#8217;at.<span id="more-509"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits tersebut diatas, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (III : 25, IV : 205), Muslim (II : 166), Abu &#8216;Uwanah (II : 327), Abu Dawud (I : 210), At-Tirmidzi (II : 302-303 cetakan Ahmad Syakir), An-Nasa&#8217;i (I : 248), Malik (I : 134), Al-Baihaqi (II : 495-496) dan Ahmad (VI : 36,73, 104).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang Kedua :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu &#8216;anhu bahwa beliau menuturkan : &#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan raka&#8217;at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau disitu hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya : &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami&#8221;. Beliau menjawab : &#8220;Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) shalat itu menjadi wajib atas dirimu&#8221;. [Diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 90), Ath-Thabrani dalam "Al-Mu'jamu Ash-Shagir" (hal 108). Dengan hadits yang sebelumnya, derajatnya hadist ini hasan. Dalam "Fathul Bari" demikian juga dalam "At-Talkhish" Al-Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan bahwa hadits itu shahih, Namun beliau menyandarkan hadits itu kepada Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah masing-masing dalam Shahih-nya].</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits Tarawih Dua Puluh Raka&#8217;at Dha&#8217;if Sekali dan Tidak Dapat Dijadikan Hujjah Untuk Beramal</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam &#8220;Fathul Bari&#8221; (IV : 205-206) Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits yang pertama, beliau menyatakan : &#8220;Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan dua puluh raka&#8217;at ditambah witir, sanad hadist ini adalah dha&#8217;if. Hadits &#8216;Aisyah yang disebut dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim ini juga bertentangan dengan hadits itu, padahal &#8216;Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk beluk kehidupan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya&#8221;. Pendapat serupa juga telah lebih dahulu diungkapkan oleh Az-Zailai&#8217; dalam &#8220;Nashbu ar-Rayah&#8221; (II : 153).</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : &#8220;Hadits Ibnu Abbas ini dha&#8217;if sekali, sebagaimana dinyatakan oleh As-Suyuthi dalam &#8220;Al-Hawi Lil Fatawa&#8221; (II : 73). Adapun cacat hadits itu yang tersembunyi, adanya perawi bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman. Al-Hafizh dalam &#8220;At-Taqrib&#8221; menyatakan : &#8220;Haditsnya matruk (perawinya dituduh pendusta)&#8221;. Aku telah menyelidiki sumber-sumber pengambilan hadits itu, namun yang aku temui cuma jalannya. Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya dalam &#8220;Al-Mushannaf &#8221; (II : 90/2), Abdu bin Hamid dalam &#8220;Al-Muntakhab Minal Musnad&#8221; (43 : 1-2), Ath-Thabarani dalam &#8220;Al-Mu&#8217;jamu Al-Kabir&#8221; (III : 148/2) dan juga dalam &#8220;Al-Ausath&#8221; serta dalam &#8220;Al-Muntaqa&#8221; (edisi tersaring) dari kitab itu, oleh Adz-Dzahabi (II : 3), atau dalam &#8220;Al-Jam&#8217;u&#8221; (rangkuman) Al-Mu&#8217;jam Ash-Shaghir dalam Al-Kabir oleh penulis lain (119 : I), Ibnu &#8216;Adiy dalam &#8220;Al-Kamil&#8221; (I : 2), Al-Khatib dalam &#8220;Al-Muwaddhih&#8221; (I : 219) dan Al-Baihaqi dalam &#8220;Sunan&#8221;-nya (II : 496). Seluruhnya dari jalur Ibrahim (yang tersebut) tadi, dari Al-Hakam, dari Muqsim, dari Ibnu Abbas hanya melalui jalan ini&#8221;. Imam Al-Baihaqi juga menyatakan : &#8220;Hadits ini hanya diriwayatkan melalui Abu Syaibah, sedangkan ia perawi dha&#8217;if &#8220;. Demikian juga yang dinyatakan oleh Al-Haitsami dalam &#8220;Majmu&#8217; Az-Zawaid&#8221; (III : 172) bahwa ia perawi yang dha&#8217;if. Kenyataannya, ia malah perawi yang dha&#8217;if sekali, seperti diisyaratkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar tadi bahwa ia Matrukul hadits (ditinggal haditsnya karena dituduh berdusta). Inilah yang benar, seperti juga dinyatakan oleh Ibnu Ma&#8217;in : &#8220;Ia sama sekali tak bisa dipercaya&#8221;. Al-Jauzajani menyatakan : &#8220;Jatuh martabatnya&#8221; (celaan yang keras). Bahkan Syu&#8217;bah menganggapnya berdusta dalam satu kisah. Imam Al-Bukhari berkomentar :&#8221;Dia tak dianggap para ulama&#8221;. Padahal Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam &#8220;Ikhti-shar &#8216;Ulumi Al-Hadits&#8221; (hal 118) :&#8221;Orang yang dikomentari oleh Al-Bukhari dengan ucapan beliau seperti tadi, berarti sudah terkena celaan yang paling keras dan buruk, menurut versi beliau&#8221;. Oleh sebab itu, saya menganggap hadits ini dalam kategori Hadits Maudhu&#8217; alias palsu. Disebabkan (disamping kelemahannya) ia bertentangan dengan hadits &#8216;Aisyah dan Jabir yang terdahulu sebagaimana tadi diungkapkan oleh Al-Hafizh Az-Zaila&#8217;i dan Al-Asqalani. Imam Al-Hafidz Adz-Dzahabi juga memaparkan hadits-haditsnya yang munkar. Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan dalam &#8220;Al-Fatawa Al-Kubra&#8221; (I : 195) setelah beliau menyebutkan hadits ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hadits ini sungguh amat dha&#8217;if ; para ulama telah bersikap keras terhadap salah seorang perawinya, dengan celaan dan hinaan. Diantara bentuk celaan dan hinaan itu (dalam kaedah ilmu hadits) : Ia perawi hadits-hadits palsu, seperti hadits yang berbunyi : &#8220;Umat ini hanya akan binasa di Aadzar (nama tempat) &#8221; juga hadits : &#8220;Kiamat itu hanya akan terjadi di Aadzar &#8220;. Hadits-hadistnya yang berkenaan dengan masalah tarawih ini tergolong jenis hadits-hadits munkarnya. Imam As-Subki itu sendiri menjelaskan bahwa (diantara) persyaratan hadist dha&#8217;if untuk dapat diamalkan adalah ; hadits itu tak terlalu lemah sekali. Imam Adz-Dzahabi menyatakan : &#8220;orang yang dianggap berdusta oleh orang semisal Syu&#8217;bah, tak perlu ditoleh lagi haditsnya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : &#8220;Apa yang dinukil beliau dari As-Subki itu mengandung isyarat lembut dari Al-Haitami bahwa beliau sendiri tak sependapat dengan mereka yang mengamalkan hadits tentang shalat tarawih 20 raka&#8217;at itu, simaklah&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, setelah beliau menyebutkan hadits Jabir dari riwayat Ibnu Hibban, Imam As-Suyuthi berkomentar : &#8220;Kesimpulannya, riwayat tarawih 20 raka&#8217;at itu tak ada yang shahih dari perbuatan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Apa yang tersebut dalam riwayat Ibnu Hibban merupakan klimaks apa yang menjadi pendapat kami, karena (sebelumnya) kami telah berpegang dengan apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha, yaitu : Bahwa beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam baik dalam bulan Ramadhan maupun dalam bulan lainnya tak pernah shalat malam melebihi 11 raka&#8217;at. Kedua hadits itu (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Bukhari) selaras, karena disebutkan disitu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat delapan raka&#8217;at, lalu menutupnya dengan witir tiga raka&#8217;at, sehingga berjumlah 11 raka&#8217;at. Satu hal lagi yang menjadi dalil, bahwa Nabi apabila mengamalkan satu amalan, beliau selalu melestarikannya. Sebagaimana beliau selalu meng-qadha shalat sunnah Dhuhur sesudah Ashar ; padahal shalat waktu itu pada asalnya haram. Seandainya beliau telah mengamalkan shalat tarawih 20 raka&#8217;at itu, tentu beliau akan mengulanginya. Kalau sudah begitu, tak mungkin &#8216;Aisyah tidak mengetahui hal itu, sehingga ia membuat pernyataan seperti tersebut tadi&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : &#8220;Ucapannya itu mengandung isyarat yang kuat bahwa beliau lebih memilih sebelas raka&#8217;at dan menolak riwayat yang 20 raka&#8217;at dari Ibnu Abbas karena terlalu lemah, coba renungkan&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih, edisi Indonesia Shalat Tarawih, Penyusun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tibyan hal. 28 - 36 Penerjemah Abu Umar Basyir Al-Maidani]</p>
<p>_________</p>
<p>Foote Note</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (II/116/1), Muslim dan lain-lain : &#8220;Shalat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain adalah tiga belas raka&#8217;at. Diantaranya dua raka&#8217;at fajar&#8221;. Namun dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Imam Malik (I : 142), juga oleh Al-Bukhari (III : 35) dan lain-lain, diceritakan bahwa &#8216;Aisyah menuturkan :&#8221;Beliau shalat pada waktu malam tiga belas raka&#8217;at. Lalu bila datang adzan subuh memanggil, beliau shalat dua raka&#8217;at yang ringan&#8221;. Al-Hafidzh Ibnu Hajar mengatakan : &#8220;Pada dzahirnya, hadits itu nampakl bertentangan dengan hadits terdahulu. Bisa jadi, &#8216;Aisyah menggabungkan dengan dua raka&#8217;at shalat sesudah Isya, karena beliau memang melakukannya di rumah. Atau mungkin juga dengan dua raka&#8217;at yang dilakukan Nabi sebagai pembuka shalat malam. Karena dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bahwa beliau memang memulai shalat malam dengan dua raka&#8217;at ringan. Dan yang kedua ini lebih kuat, menurut hemat saya. Karena Abu Salamah yang mengkisahkan kriteria shalat beliau yang tak melebihi 11 raka&#8217;at dengan empat-empat plus tiga raka&#8217;at, hal itu jelas belum mencakup dua raka&#8217;at ringan (pembuka) tadi, dua raka&#8217;at itulah yang tercakup dalam riwayat Imam Malik. Sedangkan tambahan matan hadits dari seorang hafizh (seperti Malik) bisa diterima. Pendapat ini lebih dikuatkan lagi dengan apa yang tertera pada riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari jalur riwayat Abdullah bin Abi Qais dari &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha dengan lafazh : &#8220;Beliau melakukan witir tiga raka&#8217;at setelah shalat empat raka&#8217;at ; atau tiga setelah sepuluh. Dan beliau belum pernah berwitir -plus shalat malamnya- labih dari tiga belas raka&#8217;at. Dan juga tidak pernah kurang -bersama shalat malamnya- dari tujuh raka&#8217;at. Inilah riwayat paling shahih yang berhasil saya dapatkan dalam masalah itu. Dengan demikian, perselisihan seputar hadits &#8216;Aisyah itu dapat disatukan&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : Adapun hadits Ibnu Abi Qais ini akan kembali disebutkan Insya Allah dalam bahasan &#8220;Dibolehkannya shalat malam kurang dari 11 raka&#8217;at (hal 81).</p>
<p style="text-align:justify;">Penyelesaian yang dikemukakan oleh Ibnu hajar itu ditopang oleh riwayat Imam Malik yang secara lebih rinci menyebutkan dua raka&#8217;at ringan tersebut ; yaitu dari jalur hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwasanya ia berkata : &#8220;Aku betul-betul berhasrat menyelidiki shalat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam. Beliau shalat terlebih dahulu dua raka&#8217;at ringan. Kemudian beliau shalat dua raka&#8217;at panjang, lalu dua raka&#8217;at panjang, lalu dua raka&#8217;at panjang. Dua raka&#8217;at yang kedua tidak sepanjang yang pertama. Demikian juga yang ketiga tak sepanjang yang kedua. Yang keempat juga tak sepanjang yang ketiga. Setelah itu beliau menutup dengan witir. Semuanya berjumlah tiga belas raka&#8217;at.</p>
<p style="text-align:justify;">[Diriwayatkan oleh Imam Malik (I:143-144), Muslim (II:183), Abu 'Uwanah (II:319) Abu Dawud (I:215) dan Ibnu Nashar (hal.48]</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut hemat saya, ada kemungkinan dua raka&#8217;at disitu adalah shalat sunnah sesudah Isya. Bahkan itulah yang nampak (berdasarkan hukum) secara zhahir. Karena saya belum mendapatkan satu haditspun yang menyebutkan dua raka&#8217;at itu berseiringan dengan penyebutan raka&#8217;at yang tiga belas. Bahkan sebaliknya, saya justru mendapatkan riwayat yang menopang apa yang saya perkirakan. Yaitu hadits Jabir bin Abdullah, dimana beliau menyampaikan :&#8221;Dahulu kami bersama-sama beranjak dengan Rasulullah dari Hudaibiyyah. Tatkala kami sampai di Suqya (yaitu perkampungan antara Mekkah dan Madinah), tiba-tiba beliau berhenti -dan jabir kala itu disampingnya- lalu melakukan shalat isya&#8217; kemudian setelah itu beliau shalat tiga belas raka&#8217;at&#8221; (hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 48). Hadits ini juga sebagai nash yang jelas, bahwa shalat sunnah &#8216;Isya termasuk hitungan yang tiga belas tadi. Seluruh perawi hadits tersebut tsiqah (terpercaya), selain Syurahbil bin Sa&#8217;ad. Dia memiliki kelemahan.</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Yakni dengan satu kali salam. Imam Nawawi dalam &#8221;Syarhu Muslim&#8221; menyebutkan :&#8221;Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat dengan hitungan itu. Adapun yang dikenal dari perbuatan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahkan beliau memerintahkan, yaitu agar shalat malam itu dibuat dua-dua (raka&#8217;at).</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengatakan : Yang dinyatakan oleh beliau itu sungguh benar adanya. Adapun pendapat madzhab Syafi&#8217;iyyah bahwa (Wajib kita bersalam pada setiap dua raka&#8217;at. Barangsiapa yang melakukannya dengan satu salam, maka tidak shah) sebagaimana tersebut dalam &#8220;Al-Fiqhu Ala Al-Madzahibi Al-Arba&#8217;ah&#8221; (I: 298) dan juga dalam &#8220;Syarhu Al-Qasthalani&#8221; Terhadap shahih Al-Bukhari (V : 4) dan lain-lain, pendapat itu jelas bertentangan dengan hadits shahih ini dan juga bersebrangan dengan pernyataan Imam An-Nawawi yang menyatakan dibolehkannya cara itu. Padahal beliau termasuk ulama besar dan alhi tahqiq (peneliti) dari kalangan Syafi&#8217;iyyah. maka jelas tak ada alasan bagi seseorang untuk menfatwakan hal yang sebaliknya.!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2225/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/2225/slash/0</a></p>
Posted in Fatawa, Fiqh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=509&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-shalat-tarawih-melebihi-sebelas-rakaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/shalat-tarawih/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/shalat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 15:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
[1]. Pensyari&#8217;atannya
Shalat tarawih disyari&#8217;atkan secara berjama&#8217;ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha.
&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=506&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:center;">Oleh</div>
<div style="text-align:center;">Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly</div>
<div style="text-align:center;">Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</div>
<p style="text-align:justify;">[1]. Pensyari&#8217;atannya</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat tarawih disyari&#8217;atkan secara berjama&#8217;ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasulullah Shallalalhu &#8216;alaihi wa sallam keluar dan shalat, ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama&#8217;ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Artinya : Amma ba&#8217;du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya&#8221;<span id="more-506"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama&#8217;ah&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 3/220 dan Muslim 761]</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti  keterangan hadits diatas) maka berarti syari&#8217;at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama&#8217;ah disyari&#8217;atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan &#8216;illat telah hilang (juga). Sesungguhnya &#8216;illat itu berputar bersama ma&#8217;lulnya, adanya atau tidak adanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang menghidupkan kembali sunnah ini adalah Khulafa&#8217;ur Rasyidin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu sebagaimana dikabarkan yang demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy[1] beliau berkata : &#8220;Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok[2] Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama&#8217;ah, maka Umar berkata : &#8220;Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik&#8221;. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama&#8217;ah dengan imam Ubay bin Ka&#8217;ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, &#8220;Sebaik-baik bid&#8217;ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam&#8221;.[Dikeluarkan Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733]</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Jumlah Raka&#8217;atnya</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka&#8217;atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah delapan raka&#8217;at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Artinya : Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka&#8217;at&#8221; [Dikeluarkan oleh Bukhari 3/16 dan Muslim 736 Al-Hafidz berkata (Fath 4/54)]</p>
<p style="text-align:justify;">Yang telah mencocoki Aisyah adalah Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau menyebutkan, &#8220;Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka&#8217;at kemudian witir[3]</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka&#8217;at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata : &#8220;Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka&#8217;ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka&#8217;at&#8221;. Ia berkata : &#8220;Ketika itu imam membaca dua ratus ayat hingga kami bersandar/bertelekan pada tongkat karena lamanya berdiri, kami tidak pulang kecuali ketika furu&#8217; fajar&#8221; [4]</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat beliau ini diselisihi oleh Yazid bin Khashifah, beliau berkata : &#8220;Dua puluh raka&#8217;at&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Yazid ini syadz (ganjil/menyelisihi yang lebih shahih), karena Muhammad bin Yusuf lebih tsiqah dari Yazid bin Khashifah. Riwayat Yazid tidak bisa dikatakan ziyadah tsiqah kalau kasusnya seperti ini, karena ziyadah tsiqah itu tidak ada perselisihan, tapi hanya sekedar tambahan ilmu saja dari riwayat tsiqah yang pertama sebagaimana (yang disebutkan) dalam Fathul Mughit (1/199), Muhashinul Istilah hal. 185, Al-Kifayah hal 424-425. Kalaulah sendainya riwayat Yazid tersebut shahih, itu adalah perbuatan, sedangkan riwayat Muhammad bin Yusuf adalah perkataan, dan perkataan lebih diutamakan dari perbuatan sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh.</p>
<p style="text-align:justify;">Abdur Razaq meriwayatkan dalam Al-Mushannaf 7730 dari Daud bin Qais dan lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid : &#8220;Bahwa Umar mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, dengan dua puluh satu raka&#8217;at, membaca dua ratus ayat, selesai ketika awal fajar&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat ini menyelisihi yang diriwayatkan oleh Malik dari Muhamad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, dhahir sanad Abdur Razaq shahih seluruh rawinya tsiqah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang-orang yang berhujjah dengan riwayat ini, mereka menyangka riwayat Muhammad bin Yusuf mudhtharib, hingga selamatlah pendapat mereka dua puluh raka&#8217;at yang terdapat dalam hadits Yazid bin Khashifah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan mereka ini tertolak, karena hadits mudhtarib adalah hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi satu kali atau lebih, atau diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dengan lafadz yang berbeda-beda, mirip dan sama, tapi tidak ada yang bisa menguatkan (mana yang lebih kuat). [Tadribur Rawi 1/262]</p>
<p style="text-align:justify;">Namun syarat seperti ini tidak terdapat dalam hadits Muhammad bin Yusuf karena riwayat Malik lebih kuat dari riwayat Abdur Razaq dari segi hapalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami ketengahkan hal ini kalau kita anggap sanad Abdur Razaq selamat dari illat (cacat), akan tetapi kenyatannya tidak demikian (karena hadits tersebut mempunyai cacat, pent) kita jelaskan sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Yang meriwayatkan Mushannaf dari Abdur Razaq lebih dari seorang, diantaranya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Ubbad Ad-Dabari</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Hadits ini dari riwayat Ad-Dabari dari Abdur Razaq, dia pula yang meriwayatkan Kitabus Shaum [Al-Mushannaf 4/153]</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Ad-Dabari mendengar dari Abdur Razaq karangan-karangannya ketika berumur tujuh tahun [Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">[4]. Ad-Dabari bukan perawi hadits yang dianggap shahih haditsnya, juga bukan seorang yang membidangi ilmu ini [Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">[5] Oleh karena itu dia banyak  keliru dalam meriwayatkan dari Abdur Razaq, dia banyak meriwayatkan dari Abdur Razaq hadits-hadits yang mungkar, sebagian ahlul ilmi telah mengumpulkan kesalahan-kesalahan Ad-Dabari dan tashif-tashifnya dalam Mushannaf Abdur Razaq, dalam Mushannaf [Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa riwayat ini mungkar, Ad-Dabari dalam meriwayatkan hadits diselisihi oleh orang yang lebih tsiqah darinya, yang menentramkan hadits ini kalau kita nyatakan kalau hadits inipun termasuk tashifnya Ad-Dabari, dia mentashifkan dari sebelas raka&#8217;at (menggantinya menjadi dua puluh satu rakaat), dan engkau telah mengetahui bahwa dia banyak berbuat tashif [Lihat Tahdzibut Tahdzib 6310 dan Mizanul I'tidal 1/181]</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu riwayat ini mungkar dan mushahaf (hasil tashif), sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, dan menjadi tetaplah sunnah yang shahih yang diriwayatkan di dalam Al-Muwatha&#8217; 1/115 dengan sanad Shahih dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid. Perhatikanlah.[5]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]</p>
<p style="text-align:justify;">_________</p>
<p style="text-align:justify;">Foote Note.</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Dengan tanwin (&#8216;abdin) dan (alqoriyyi) dengan bertasydid -tanpa dimudhofkan- lihat Al-Bab fi Tahdzib 3/6-7 karya Ibnul Atsir.</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Berkelompok-kelompok tidak ada bentuk tunggalnya, seperti nisa&#8217; ibil &#8230; dan seterusnya</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya.</p>
<p style="text-align:justify;">[4] Furu&#8217; fajar : awalnya, permulaan</p>
<p style="text-align:justify;">[5]. Dan tambahan terperinci mengenai bantahan dari Syubhat ini, maka lihatlah :</p>
<p style="text-align:justify;">[a] Al-Kasyfus Sharih &#8216;an Aghlathis Shabun fii Shalatit Tarawih oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid</p>
<p style="text-align:justify;">[b] Al-Mashabih fii Shalatit Tarawih oleh Imam Suyuthi, dengan ta&#8217;liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, cetakan Dar&#8217;Ammar</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1151/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1151/slash/0</a></p>
Posted in Fatawa, Fiqh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=506&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/shalat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Fatwa Tentang Ramadhan</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/beberapa-fatwa-tentang-ramadhan/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/beberapa-fatwa-tentang-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 14:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah beberapa fatwa ulama berkenaan dengan puasa Ramadhan.
A. LARANGAN BERBUKA PUASA SEBELUM WAKTUNYA TANPA UZUR
Oleh: Syekh Salim Bin &#8216;Ied Al-Hilali 
Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, ia berkata: &#8220;Aku mendengar Rasulullah bersabda, &#8216;Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba dua orang lelaki datang dan memapah lenganku lalu membawaku ke sebuah gunung yang terjal. Keduanya berkata, &#8216;Dakilah!&#8217; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=501&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah beberapa fatwa ulama berkenaan dengan puasa Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. LARANGAN BERBUKA PUASA SEBELUM WAKTUNYA TANPA UZUR</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Oleh: Syekh Salim Bin &#8216;Ied Al-Hilali </span></p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, ia berkata: &#8220;Aku mendengar Rasulullah bersabda, <em>&#8216;Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba dua orang lelaki datang dan memapah lenganku lalu membawaku ke sebuah gunung yang terjal. </em>Keduanya berkata,<em> &#8216;Dakilah!&#8217; &#8216;Aku tidak sanggup mendakinya,&#8217; </em>kataku.<em> &#8216;Kami akan memudahkannya untukmu,&#8217; kata mereka berdua.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Maka aku pun mendakinya. Sesampainya aku di puncak gunung itu tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh. Aku bertanya, <em>&#8216;Suara apakah itu?&#8217; </em><em>&#8216;Itu suara lolongan penghuni neraka!&#8217;</em> kata mereka. Kemudian mereka membawaku. Aku melihat sekelompok manusia digantung dengan urat-urat kaki mereka, sudut mulut mereka terkoyak dan mengalirkan darah. <em>&#8216;Siapakah mereka?&#8217;</em> tanyaku. <em>&#8216;Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum tiba waktunya,&#8217;</em> jawab mereka.<span id="more-501"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Lalu mereka membawaku. Tiba-tiba aku melihat sekelompok orang menggelembung sangat besar badannya, sangat bau dan sangat buruk rupanya.<em> &#8216;Siapakah mereka?&#8217; </em>tanyaku. <em>&#8216;Mereka adalah para pezina lelaki dan wanita,&#8217;</em> jawabnya. Kemudian mereka membawaku lagi. Tiba-tiba aku melihat kaum wanita yang digerogoti ular payudara mereka. <em>&#8216;Ada apa gerangan dengan mereka?&#8217;</em> tanyaku. <em>&#8216;Mereka adalah wanita-wanita yang menahan air susu mereka terhadap anak-anak mereka,&#8217;</em> jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian mereka membawaku lagi. Tiba-tiba aku melihat sekelompok anak-anak bermain-main di antara dua sungai. <em>&#8216;Siapakah mereka?&#8217;</em> tanyaku.<em> &#8216;Mereka adalah anak-anak kaum muslimin,&#8217;</em> jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian mereka membawaku naik ke sebuah tempat tinggi, tiba-tiba aku melihat tiga orang yang sedang meminum khamer. <em>&#8216;Siapakah mereka?&#8217;</em> tanyaku. Mereka menjawab: <em>&#8220;Ini adalah Ibrahim, Musa, dan Isa, mereka sedang menunggumu.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kandungan Bab:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Haram hukumnya sengaja berbuka sebelum waktunya  (tidak berpuasa) pada bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Berbuka puasa sebelum waktunya pada bulan Ramadhan tidak dapat ditebus kecuali dengan taubat nasuha (taubat sejati yang penuh kesungguhan -ed) dan banyak-banyak mengerjakan amalan nawafil (amalan sunnah).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. TETES MATA DAN TELINGA TIDAK MERUSAK PUASA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Oleh: Lajnah Da&#8217;imah</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam buku <em>Adh-Dhiya&#8217; Al-Lami</em> ada materi khusus tentang bulan Ramadhan dan hal-hal lain seputar puasa, di antaranya terdapat ungkapan: “&#8230; dan tidak juga membatalkan puasa jika seseorang muntah tidak disengaja atau mengobati mata atau telinganya dengan obat tetes”. Bagaimana pendapat Anda tentang hal tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Lajnah Daimah</em> menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakannya, bahwa menetesi mata atau telinga untuk mengobatinya tidak merusak puasanya, adalah pendapat yang benar. Yang demikian itu tidak disebut makan atau minum menurut kebiasaan umum dan menurut pengertian syariat, karena tetesan tersebut masuknya tidak melalui saluran makan dan minum. Kendati demikian, menunda penetesan itu hingga malam hari adalah lebih selamat sebagai langkah keluar dari perbedaan pendapat.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga orang yang muntah tanpa disengaja, itu tidak merusak puasanya, karena Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. Sementara syariat pun berdasarkan pada prinsip “meniadakan kesempitan”. Hal ini berdasarkan firman Allah, <em>&#8220;Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.&#8221;</em> (Al-Hajj: 78)</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat pula ayat-ayat lainnya, serta sabda Nabi,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barangsiapa yang muntah tanpa disengaja, maka tidak ada qadha atasnya  (tidak wajib mengganti puasanya -ed), dan barangsiapa yang berusaha muntah, maka ia wajib qadha.&#8221; </em>(Riwayat Abu Daud dalam kitab Ash-Shaum (2380), At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shaum (720), Ibnu Majah dalam kitab Ash-Shaum (1676))</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. MENCICIPI MAKANAN SAAT BERPUASA</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Oleh: Syaikh Ibnu Jibrin</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah seorang juru masak boleh mencicipi masakannya untuk memastikan ketepatan rasanya, sementara ia sedang berpuasa?</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak apa-apa mencicipi makanan jika diperlukan, yaitu dengan cara menempelkannya pada ujung lidahnya untuk mengetahui rasa manis, asin, atau lainnya. Namun tidak ditelan, tetapi diludahkan, dikeluarkan lagi dari mulutnya. Hal ini tidak merusak puasanya. Demikian menurut pendapat yang kami pilih. <em>Wallaahu a&#8217;lam</em></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah beberapa fatwa berkenaan dengan puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. <em>Wallaahu a&#8217;lam bish shawaab</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Quran dan Sunnah</em>, Syekh Salim Bin &#8216;Ied Al-Hilali.</p>
<p style="text-align:justify;">Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah: Musthofa Aini, Hanif Yahya, dan Amir Hamzah, Penerbit: Darul Haq, Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">http://majalah-nikah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=115:fatwa-ramadhan&amp;catid=41:edisiagustus</p>
Posted in Fatawa, Fiqh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/501/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=501&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/beberapa-fatwa-tentang-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keagungan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/keagungan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/keagungan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 14:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[[1] KEDUDUKAN SHAUM RAMADHAN
“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…”.
Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=496&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>[1] KEDUDUKAN SHAUM RAMADHAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman</strong></p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-930"> Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Inilah kedudukannya (yang mulia) di dalam agama Islam. Hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma’/kesepakatan kaum muslimin karena Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan demikian.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380).<span id="more-496"></span><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menjelaskan ayat di atas beliau mengatakan, “Allah mengarahkan pembicaraannya (di dalam ayat ini, pen) kepada orang-orang yang beriman. Sebab puasa Ramadhan merupakan bagian dari konsekuensi keimanan. Dan dengan menjalankan puasa Ramadhan akan bertambah sempurna keimanan seseorang. Dan juga karena dengan meninggalkan puasa Ramadhan akan mengurangi keimanan. Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan puasa karena meremehkannya atau malas, apakah dia kafir atau tidak? Namun pendapat yang benar menyatakan bahwa orang ini tidak kafir. Sebab tidaklah seseorang dikafirkan karena meninggalkan salah satu rukun Islam selain dua kalimat syahadat dan shalat.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380-381).</p>
<p style="text-align:justify;">Menunaikan kewajiban merupakan ibadah yang sangat utama, karena kewajiban merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda membawakan firman Allah ta’ala (dalam hadits qudsi),</p>
<p style="text-align:justify;">وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…” (HR. Bukhari [6502] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">An-Nawawi mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mengerjakan kewajiban lebih utama daripada mengerjakan amalan yang sunnah.” (Syarh Arba’in li An-Nawawi yang dicetak dalam Ad-Durrah As-Salafiyah, hal. 265).</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh As-Sa’di juga mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat pokok yang sangat agung yaitu kewajiban harus didahulukan sebelum perkara-perkara yang sunnah. Dan ia juga menunjukkan bahwa amal yang wajib itu lebih dicintai Allah dan lebih banyak pahalanya.” (Bahjat Al-Qulub Al-Abrar, hal. 116).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh mengatakan, “Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwasanya menunaikan kewajiban-kewajiban merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah.” (Fath Al-Bari, 11/388).</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Amal-amal wajib lebih utama daripada amal-amal sunnah. Menunaikan amal yang wajib lebih dicintai Allah daripada menunaikan amal yang sunnah. Ini merupakan pokok agung dalam ajaran agama yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syari’at dan ditetapkan pula oleh para ulama salaf.” Kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Setelah itu beliau mengatakan, “Maka hadits ini memberikan penunjukan yang sangat gamblang bahwa amal-amal wajib lebih mulia dan lebih dicintai Allah daripada amal-amal sunnah.” Kemudian beliau menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas (lihat Tajrid Al-Ittiba’ fi Bayan Tafadhul Al-A’maal, hal. 34).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[2] KEUTAMAAN SHAUM</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi…”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menghapuskan Dosa-Dosa</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari [38, 1901, 2014] dan Muslim [760] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud dengan iman di sini adalah meyakini wajibnya puasa yang dia lakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan mengharapkan pahala/ihtisab adalah keinginan mendapatkan balasan pahala dari Allah ta’ala (Fath Al-Bari, 4/136).</p>
<p style="text-align:justify;">An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim [233]).</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam kitab Shahihnya Bukhari membuat sebuah bab yang berjudul ‘Shalat lima waktu sebagai penghapus dosa’ kemudian beliau menyebutkan hadits yang senada, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana menurut kalian kalau seandainya ada sebuah sungai di depan pintu rumah kalian dan dia mandi di sana sehari lima kali. Apakah masih ada sisa kotoran yang ditinggalkan olehnya?”. Para sahabat menjawab, “Tentu saja tidak ada lagi kotoran yang masih ditingalkan olehnya.” Maka beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari [528] dan Muslim [667]).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar mengatakan, “Zahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini lebih luas daripada dosa kecil maupun dosa besar. Akan tetapi Ibnu Baththal mengatakan, ‘Dari hadits ini diambil kesimpulan bahwa yang dimaksudkan adalah khusus dosa-dosa kecil saja, sebab Nabi menyerupakan dosa itu dengan kotoran yang menempel di tubuh. Sedangkan kotoran yang menempel di tubuh jelas lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan bekas luka ataupun kotoran-kotoran manusia.’.”</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, Ibnu Hajar membantah ucapan Ibnu Baththal ini dengan menyatakan bahwa yang dimaksud oleh hadits bukanlah kotoran ringan yang sekedar menempel di badan, namun yang dimaksudkan adalah kotoran berat yang benar-benar sudah melekat di badan. Penafsiran ini didukung oleh bunyi riwayat lainnya yang dibawakan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri dengan sanad la ba’sa bihi yang secara tegas menyebutkan hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itulah Al-Qurthubi mengatakan, “Zahir hadits ini menunjukkan bahwa melakukan shalat lima waktu itulah yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa, akan tetapi makna ini janggal. Namun terdapat hadits lain yang diriwayatkan sebelumnya oleh Muslim dari penuturan Al-Alla’ dari Abu Hurairah secara marfu’ Nabi bersabda, ‘Shalat yang lima waktu adalah penghapus dosa di antara shalat-shalat tersebut selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Berdasarkan dalil yang muqayyad (khusus) ini maka hadits lain yang muthlaq (umum) harus diartikan kepada makna ini.” (lihat Fath Al-Bari, 2/15).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits yang menyebutkan tentang penghapusan dosa karena amal kebaikan di atas sesuai dengan kandungan firman Allah ta’ala,</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu akan menghapuskan dosa-dosa.” (QS. Huud [11] : 114).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Katsir mengatakan, “Allah menyatakan bahwa mengerjakan amal-amal kebaikan akan dapat menghapuskan dosa-dosa di masa silam…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 4/247). Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di dalam ayat di atas adalah dosa-dosa kecil (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 391).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana Allah juga menjadikan tindakan menjauhi dosa-dosa besar sebagai sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا</p>
<p style="text-align:justify;">“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian niscaya Kami akan menghapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisaa’ [4] : 31).</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa definisi yang paling tepat untuk dosa besar adalah segala bentuk pelanggaran yang diberi ancaman hukuman khusus (hadd) di dunia atau ancaman hukuman tertentu di akhirat atau ditiadakan status keimanannya atau timbulnya laknat karenanya atau Allah murka kepadanya (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 176).</p>
<p style="text-align:justify;">Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan ucapan Ibnu Abbas mengenai firman Allah di atas. Ibnu Abbas mengatakan, “Dosa besar adalah segala bentuk dosa yang berujung dengan ancaman neraka, kemurkaan, laknat, atau adzab.” (HR. Ibnu Jarir, disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, 2/202).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abi Hatim menuturkan : Abu Zur’ah menuturkan kepada kami : Utsman bin Syaibah menuturkan kepada kami : Jarir menuturkan kepada kami riwayat dari Mughirah. Dia (Mughirah) mengatakan, “Tindakan mencela Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma juga termasuk dosa besar.” Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama bahkan berpendapat kafirnya orang yang mencela Sahabat, ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Malik bin Anas rahimahullah.” Muhammad bin Sirin mengatakan, “Aku tidaklah mengira bahwa ada seorang pun yang menjatuhkan nama Abu Bakar dan Umar sementara dia adalah orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). (lihat keterangan ini dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 2/203).</p>
<p style="text-align:justify;">Qatadah mengatakan tentang makna ayat di atas, “Allah hanya menjanjikan ampunan bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 2/203).</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk bagian dari menjauhi dosa besar ialah dengan senantiasa menunaikan kewajiban yang apabila ditinggalkan maka pelakunya terjerumus dalam dosa besar seperti halnya meninggalkan shalat, meninggalkan shalat Jum’at, atau meninggalkan puasa Ramadhan (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 176).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memasukkan Ke Dalam Surga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan rambutnya acak-acakan. Dia mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">“Wahai Rasulullah. Beritahukan kepadaku tentang shalat yang Allah wajibkan untuk kukerjakan?”.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;">“Shalat lima waktu, kecuali kalau kamu mau menambahnya dengan shalat sunnah.”</p>
<p>Lalu dia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">“Beritahukan kepadaku puasa yang Allah wajibkan untukku?”.</p>
<p>Beliau menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;">“Puasa di bulan Ramadhan, kecuali kalau kamu mau menambah dengan puasa sunnah.”</p>
<p>Lalu dia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;">“Beritahukan kepadaku zakat yang Allah wajibkan untukku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Orang itu lalu mengatakan, “Demi Dzat yang telah memuliakan anda dengan kebenaran. Aku tidak akan menambah sama sekali, dan aku juga tidak akan menguranginya barang sedikitpun dari kewajiban yang Allah bebankan kepadaku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">“Dia beruntung jika dia memang jujur.”</p>
<p style="text-align:justify;">Atau beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">“Dia akan masuk surga jika dia benar-benar jujur/konsekuen dengan ucapannya itu.” (HR. Bukhari [46, 1891, 2678, dan 9656] dan Muslim [11]).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Membentengi Pelakunya Dari Perbuatan Buruk</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا</p>
<p style="text-align:justify;">“Puasa adalah perisai, maka janganlah dia berkata kotor dan bertindak dungu. Kalau pun ada orang yang mencela atau mencaci maki dirinya hendaknya dia katakan kepadanya, “Aku sedang puasa.” Dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi. (Allah berfirman) ‘Dia rela meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan nafsunya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Setiap kebaikan itu pasti dilipatgandakan sepuluh kalinya.” (HR. Bukhari [1894] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud dengan kata-kata kotor (rofats) di dalam hadits ini adalah ucapan yang keji. Kata rofats juga terkadang dimaksudkan untuk menyebut jima’ beserta pengantar-pengantarnya. Atau bisa juga maknanya lebih luas daripada itu semua (Fath Al-Bari, 4/123).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ini bukan berarti di selain waktu puasa orang boleh mengucapkan kata-kata kotor. Hanya saja ketika sedang berpuasa maka larangan terhadap hal itu semakin keras dan semakin tegas (Fath Al-Bari, 4/124).</p>
<p style="text-align:justify;">Kata rofats dengan makna jima’ bisa dilihat dalam ayat,</p>
<p style="text-align:justify;">أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;">“Dihalalkan untuk kalian pada malam (bulan) puasa melakukan rafats (jima’) kepada isteri-isteri kalian.” (QS. Al-Baqarah [2] : 187).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata rofats di dalam ayat ini maksudnya adalah jima’. Inilah tafsiran Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdullah, Amr bin Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adh-Dhahhaak, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi, Atha’ Al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayan (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1/286).</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang dimaksud dengan bau mulut -orang yang puasa- tersebut adalah bau mulut yang timbul akibat berpuasa, bukan karena sebab yang lain (Fath Al-Bari, 4/125).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang dimaksud dengan ‘keinginan nafsunya’ di dalam hadits ini adalah hasrat untuk berjima’, sebab penyebutannya digandengkan dengan makan dan minum (Fath Al-Bari, 4/126).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebuah Pintu Khusus Di Surga</strong></p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p style="text-align:justify;">Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”</p>
<p>Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.</p>
<p>Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ’sepasang hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ’sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351). Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara tegas, Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, “Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari semua pintu surga-.” Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit orang yang bisa mengumpulkan berbagai amal kebaikan di dalam dirinya (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p style="text-align:justify;">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”. Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, ”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.” Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, ”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap (sesama) makhluk-Nya.” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, hal. 102).</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p style="text-align:justify;">”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma).</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kebaikan gerak-gerik anggota badan manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya. Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p style="text-align:justify;">An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar  bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah, “Poros baik dan rusaknya (amalan) adalah bersumber dari hati. Apabila hatinya baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Dan jika ia rusak, maka seluruh anggota tubuh akan ikut rusak. Dari faidah ini muncul perkara yang lain yaitu : sudah semestinya memperhatikan masalah hati lebih daripada perhatian terhadap masalah amal anggota badan. Sebab hati adalah poros amalan. Dan hati itulah yang nanti pada hari kiamat akan menjadi objek utama ujian yang ditujukan kepada manusia. Hal itu sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apakah mereka tidak mengetahui ketika mayat yang ada di dalam kubur dibangkitkan dan dikeluarkan apa-apa yang tersembunyi di dalam dada.” (QS. Al-’Adiyat : 9-10). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Dia Maha Kuasa untuk mengembalikannya. Pada hari itu akan diuji perkara-perkara yang tersembunyi (di dalam hati).” (QS. Ath-Thariq : 8-9). Maka sucikanlah hatimu dari kesyirikan, kebid’ahan, dengki dan perasaan benci kepada kaum muslimin, serta (bersihkanlah hatimu) dari akhlak-akhlak dan keyakinan lainnya yang bertentangan dengan syari’at, karena yang menjadi pokok segala urusan adalah hati.” (Syarh Arba’in, hal. 113).</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga mengatakan, “Apabila Allah di dalam kitab-Nya, serta Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya juga telah menegaskan agar memperbaiki niat, maka wajib bagi setiap manusia untuk memperbaiki niatnya dan memperhatikan adanya keragu-raguan yang tertanam di dalam hatinya untuk kemudian dilenyapkan olehnya menuju keyakinan. Lantas bagaimanakah caranya?”.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau melanjutkan, “Hal itu dapat ditempuh dengan cara memperhatikan ayat-ayat. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam sungguh-sungguh terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal pikiran.” (QS. Ali ‘Imran : 190). Allah juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya di langit dan di bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman, begitu juga dalam penciptaan diri kalian dan hewan-hewan melata yang bertebaran adalah tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Jatsiyah : 4). Maka silakan anda perhatikan ayat-ayat Allah yang lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kemudian apabila syaitan membisikkan di dalam hati anda keragu-raguan, perhatikanlah ayat-ayat Allah, perhatikan alam semesta ini siapakah yang telah mengaturnya, perhatikanlah bagaimana keadaan bisa berubah-ubah, bagaimana Allah mempergilirkan perjalanan hari di antara umat manusia sampai anda benar-benar yakin bahwa alam ini memiliki pengatur yang maha bijaksana (yaitu Allah) ‘azza wa jalla…” (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/41).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/08/04/keagungan-puasa-ramadhan/</p>
Posted in Fiqh, Keutamaan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=496&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/19/keagungan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penampilan Seperti Ini Bukanlah Teroris</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/14/penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/14/penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 14:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
[Pengasuh Radio Muslim, Jogjakarta]
Setelah peristiwa pengeboman Mega Kuningan 17 Juli 2009, polisi mulai melancarkan operasi penangkapan terhadap orang-orang yang diduga teroris. Seperti kemarin baru saja kita saksikan penyergapan di Jatiasih dan Temanggung yang dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri. Dalam penyergapan tersebut diduga bahwa kepolisian telah berhasil menewaskan pelaku teroris nomor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=492&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="snap_preview">
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong>Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">[Pengasuh Radio Muslim, Jogjakarta]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Setelah peristiwa pengeboman Mega Kuningan 17 Juli 2009, polisi mulai melancarkan operasi penangkapan terhadap orang-orang yang diduga teroris. Seperti kemarin baru saja kita saksikan penyergapan di Jatiasih dan Temanggung yang dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri. Dalam penyergapan tersebut diduga bahwa kepolisian telah berhasil menewaskan pelaku teroris nomor satu di negeri ini yaitu Noordin M Top, yang berkewanegaraan Malaysia. Di samping itu, kita lihat di beberapa tempat polisi juga melakukan raziah dengan tujuan untuk mencari orang-orang yang diduga teroris.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><span id="more-2028"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Namun bukanlah peristiwa ini yang kami sayangkan. Yang kami risaukan adalah tanggapan masyarakat saat ini mengenai orang-orang yang berpenampilan sama dengan pelaku-pelaku pengeboman. Sejak masa Amrozi dan Ali Imron dulu, sebagian orang memiliki anggapan bahwa orang-orang yang berjenggot dan memakai celana di atas mata kaki adalah orang-orang yang sekelompok dengan Noordin cs. Atau istri-istri mereka yang mengenakan cadar dituduh sebagai istri para teroris.<span id="more-492"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dalam tulisan yang singkat ini, kami ingin sekali memberikan penjelasan kepada kaum muslimin bahwa tidak setiap orang yang berpenampilan sama itu memiliki kesamaan dalam tingkah laku. Jadi, belum tentu orang yang berpenampilan dengan celana di atas mata kaki atau berjenggot adalah teroris atau temannya teroris atau sekomplotan dengan teroris. Tidak otomatis dari penampilan semata seseorang bisa dituduh teroris.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga setiap muslim yang membaca artikel ini mendapatkan pencerahan dan mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala.</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Mengenai Penutup Wajah (Cadar)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Perlu diketahui bahwasanya menutup wajah itu memiliki dasar dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlepas apakah menutup wajah merupakan suatu yang wajib ataukah mustahab (dianjurkan). Kita dapat melihat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para wanita, “Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, Al Baihaqi, Ahmad dari Ibnu Umar secara marfu’ –yaitu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Niqob adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah lekuk mata ke bawah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menafsirkan surat An Nur ayat 59 berkata, ”Ini menunjukkan bahwa cadar dan kaos tangan biasa dipakai oleh wanita-wanita yang tidak sedang berihrom. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu menutup wajah dan kedua tangan mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai bukti lainnya juga, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Ummahatul Mukminin (Ibunda orang mukmin yaitu istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) biasa menutup wajah-wajah mereka. Di antara riwayat tersebut adalah : Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, ”Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan Shofiyah kepada para shahabiyah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Aisyah mengenakan cadar di kerumunan para wanita. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kalau itu adalah Aisyah dari cadarnya.” (HR. Ibnu Sa’ad)</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, lihatlah bahwa para istri Nabi juga para sahabat sudah terbiasa menggunakan penutup wajah. Mungkin kaum muslimin saat ini saja yang merasa asing dan aneh dengan penampilan semacam itu.</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Mengenai Jenggot</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dari Anas bin Malik –pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, Muhammad Nashirudin Al Albani, hal. 13, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Lihatlah saudaraku, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat di atas dengan sangat jelas terlihat memiliki jenggot. Lalu pantaskah beliau dikatakan sebagai biang kerok berbagai bom terror sebagaimana yang dikatakan pada Noordin M Top dan Amrozi?! Semoga lidah dan lisan kita tidak mengeluarkan perkataaan semacam ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Mengenai Celana Di Atas Mata Kaki</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Celana di atas mata kaki juga termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata: Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, ”Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?” Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dari penjelasan yang dipaparkan di atas, kami rasa sudah cukup jelas bahwa penampilan berjenggot, bercadar bagi muslimah dan berpenampilan dengan celana di atas mata kaki adalah termasuk ajaran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pantaskah orang yang mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan teroris atau biang kerok pengeboman atau dikatakan komplotannya Noordin M Top? Atau pantaskah pula dikatakan kepada orang yang memakai cadar dengan panggilan ‘ninja’ atau istri teroris; atau kepada orang yang celananya cingkrang (di atas mata kaki) dengan sebutan ‘celana kebanjiran’; atau orang yang berjenggot disebut ‘kambing’? Padahal di sana, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpenampilan berjenggot dan celananya di atas mata kaki. Begitu pula istri-istri beliau adalah istri-istri yang menutup wajah mereka dengan cadar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Perhatikanlah suadaraku, sesungguhnya karena lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan. Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no.7673)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Janganlah Mengolok-olok Orang yang Mengikuti Ajaran Nabi</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Tidak diragukan lagi bahwa mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya dan syari’at-Nya termasuk dalam kekafiran sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah [9] : 65-66).</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, seorang ulama besar dan faqih di Saudi Arabia pernah ditanyakan, ”Apakah termasuk dalam dua ayat yang disebutkan sebelumnya (yaitu surat At Taubah ayat 65-66, pen) bagi orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok orang yang memelihara jenggot dan yang komitmen dengan agama ini?”</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau rahimahullah menjawab, ”Mereka yang mengejek orang yang komitmen dengan agama Allah dan yang menunaikan perintah-Nya, jika mereka mengejek ajaran agama yang mereka laksanakan, maka ini termasuk mengolok-olok mereka dan mengolok-olok syari’at (ajaran) Islam. Dan mengolok-olok syari’at ini termasuk kekafiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jika mereka mengolok-olok orangnya secara langsung (tanpa melihat pada ajaran agama yang dilakukannya baik itu pakaian atau jenggot), maka semacam ini tidaklah kafir. Karena seseorang bisa saja mengolok-olok orang tersebut atau perbuatannya. Namun setiap orang seharusnya berhati-hati, jangan sampai dia mengolok-olok para ulama atau orang-orang yang komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, Darul ‘Aqidah, hal. 120)</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Kisah-Kisah Orang Yang Meremehkan Ajaran Nabi</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nur [24] : 63)</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut kami akan membawakan dua kisah tentang orang yang meremehkan atau tidak mau mengindahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akibat yang mereka peroleh di dunia. Kisah pertama kami bawakan dari Sunan Ad Darimi pada Bab ‘Disegerakannya hukuman di dunia bagi orang yang meremehkan perkataan Nabi dan tidak mengagungkannya’.</p>
<p style="text-align:justify;">Abdurrahman bin Harmalah mengatakan, ”Seorang laki-laki datang menemui Sa’id bin Al Musayyib untuk menitipkan sesuatu karena mau berangkat haji dan umroh. Lalu Sa’id mengatakan kepadanya, ”Janganlah pergi, hendaklah kamu shalat terlebih dahulu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali orang munafik atau orang yang ada keperluan dan ingin kembali lagi ke masjid.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu orang ini mengatakan,”(Tetapi) teman-temanku sedang menunggu di Al Harroh.” Lalu dia keluar (dari masjid). Belum lagi Sa’id menyayangkan kepergiannya, tiba-tiba dikabarkan orang ini telah jatuh dari kendaraanya sehingga pahanya patah.” [Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan]</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah kedua diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shohihnya. Dari Ikrimah bin ‘Ammar, (beliau berkata) Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ telah berkata bahwa ayahnya mengatakan kepadanya (yaitu) ada seorang laki-laki makan dengan tangan kirinya di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ”Makanlah dengan tangan kananmu.” Lalu dia mengatakan, ”Aku tidak mampu.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Engkau memang tidak akan mampu”. Tidak ada yang menghalanginya untuk mentaati Nabi kecuali rasa sombong. Akhirnya, dia tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulut. (HR. Muslim no. 5387)</p>
<p></span>
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Perlu kami tegaskan sekali lagi, tulisan ini bukanlah dimaksudkan untuk mendukung aksi-aksi terror dan pengeboman. Bahkan perlu diketahui bahwa kami termasuk yang menentang aksi-aksi semacam itu sebagaimana yang pernah kami ungkapkan dalam beberapa tulisan kami yang lalu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Juga bagi kaum muslimin yang memang belum bisa menunaikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna seperti berpenampilan berjenggot dan celana di atas mata kaki, kami naseharkan agar jangan sampai mencela orang-orang yang ingin mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau memang belum sanggup atau merasa berat, cukuplah lisan-lisan kalian diam dan tidak turut mencela. Karena penampilan seperti ini jelas-jelas adalah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak pantas dicemooh dan dicela. Adapun mengenai hukum jenggot dan celana di atas mata kaki, bukanlah di sini tempatnya. Kami memiliki pembahasan tersendiri mengenai hal ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Semoga Allah memberi taufik dan hidayah bagi setiap muslim yang membaca tulisan ini. Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu mengagungkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2655-penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris.html </span></p>
</div>
Posted in Bantahan, Nasehat  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=492&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/14/penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jihad-Jihad Yang Fardhu ‘Ain</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-jihad-yang-fardhu-%e2%80%98ain/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-jihad-yang-fardhu-%e2%80%98ain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 16:39:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
“Artinya : Dari ‘Aisyah, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah, akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah” [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2783 kitab al-Jihad wa as-siyar dan Muslim No. 1864 kitab al-Imaarah]
Maknanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=489&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Dari ‘Aisyah, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<em> Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah, akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah</em>” [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2783 kitab <em>al-Jihad wa as-siyar </em>dan Muslim No. 1864 kitab <em>al-Imaarah</em>]</p>
<p style="text-align:justify;">Maknanya : Tidak ada hijrah dari Mekkah karena dia telah menjadi negeri Islam. [Keterangan dari Imam Nawawiy penulis kitab <em>Riyadhush Shalihin </em>-pent]</p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahan jihad yang hukumnya <em>fardhu ‘ain</em> merupakan permasalahan besar yang belum banyak diketahui oleh kaum muslimin. Sehingga banyak para da’i berfatwa dan menyerukan jihad yang hukumnya (dianggap) <em>fardhu ‘ain</em> terhadap setiap pribadi tanpa dasar kaidah yang jelas, dan terkadang dibuat dalam rangka mewujudkan keinginan-keinginan pribadi dan sekelompok orang tertentu saja. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, kami merasa perlu memuat suatu penjelasan singkat tentang hal tersebut dari seorang alim ulama yang telah dikenal ilmu dan kesholehannya, agar kita semua dapat beramal diatas ilmu, dan mudah-mudahan Allah memberi taufiq-Nya kepada kita untuk berjalan di jalan yang lurus.<span id="more-489"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syarah Hadits.</strong></p>
<p>Dalam hadits ini Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyatakan tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah dengan sabdanya : ” <em>Tidak ada hijrah</em>“.</p>
<p style="text-align:justify;">Peniadaan ini bukan untuk keumumannya, maknanya hijrah tersebut tidak batal dengan penaklukan kota Mekkah, karena hijrah tersebut tidak akan hilang sampai hari kiamat sebagaimana telah ada dalam hadits Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : <em>Hijrah tidak terputus sampai taubat terputus, dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat</em>” [Dikeluarkan oleh Abu Dawud No. 2479 kitab Al-Jihad dan Ahmad dalam Musnadnya 4/99 dan dia ada di Shahihil Jami' No. 7469]</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi yang dimaksud dengan tidak ada hijrah disini adalah tidak adanya hijrah dari Mekkah, sebagaimana dinyatakan oleh penulis (Imam Nawawi) diatas, karena setelah penaklukan kota Mekkah menjadi negeri Islam dan setelah itu tidak akan kembali menjadi negeri kafir, dengan dasar inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meniadakan hijrah setelah penaklukan Mekkah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mekkah dahulu di bawah kekuasaan kaum musyrikin, mereka telah mengusir Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> darinya, kemudian beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berhijrah dengan izin Rabbnya ke Madinah. Setelah delapan tahun Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di Madinah, beliau kembali ke Mekkah dan menaklukannya sehingga kota Mekkah menjadi negeri iman dan Islam, dan dengan demikian tidak ada lagi hijrah dari sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa Mekkah tidak akan kembali menjadi negeri kafir, tetapi tetap menjadi negeri Islam sampai datang hari kiamat atau sampai waktu yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>kehendaki.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian sabda beliau : “<em>Akan tetapi jihad dan niat</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Bermakna : perintah setelah ini adalah jihad, yaitu penduduk Makkah keluar dari Makkah untuk berjihad. Dan “<em>waniyyatun</em>” bermakna : Niat yang baik untuk berjihad di jalan Allah, yaitu dengan cara berniat adalah jihadnya untuk meningkatkan kalimat Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau bersabda : “<em>Dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah</em>“.</p>
<p style="text-align:justify;">Bermakna : Jika <em>waliyul amri </em>(pemerintah) meminta kalian untuk pergi berjihad di jalan Allah, maka kalian wajib berangkat berjihad, dan hukum jihad pada saat itu adalah fardhu ‘ain. Maka jangan seorangpun tidak memenuhinya, kecuali orang yang telah mendapat udzur Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan dalil firman-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : <em>Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu : ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu</em>” [At-Taubah : 38-39]</p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan salah satu keadaan jihad yang diuhukumi <em>fardhu a’in</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan kedua : Jika musuh mengepung satu Negara, bermakna musuh datang menyerang Negara tersebut dan mengepungnya, maka jihad diwaktu itu menjadi fardhu ‘ain. Dalam keadaan seperti ini setiap orang wajib berperang, termasuk para wanita dan orang tua yang mampu berjihad. Karena ini merupakan jihad membela diri (<em>jihad difa</em>‘) dan perang membela diri ini berbeda dengan perang menyerang mush (<em>jihad tholab</em>), sehingga dalam keadaan seperti ini seluruh orang berangkat untuk membela Negara mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan ketiga : Jika terjadi pertempuran, kedua belah pihak yang berperang saling berhadapan, barisan orang-orang kafir dengan barisan kaum muslimin, maka jihad pada waktu itu hukumnya fardhu ‘ain dan tidak boleh seorangpun berpaling, sebagaimana firman Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : <em>Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya</em>” [Al-Anfaal : 15-16]</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggolongkan kabur dari medan pertempuran termasuk dosa besar yang tujuh.[1]</p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan keempat : Jika seseorang dibutuhkan, contoh : tidak ada yang mengetahui penggunaan senjata kecuali hanya satu orang saja, dan orang-orang membutuhkan orang tersebut untuk menggunakan senjata baru, maka wajib atasnya untuk berjihad walaupun imam (<em>waliyul amri</em>) tidak memintanya berangkat dan kewajiban itu ada lantaran dia dibutuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dalam empat keadaan inilah jihad menjadi <em>fardhu ‘ain</em>, dan yang selainnya adalah fardhu kifayah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ahlul Ilmi menyatakan bahwa wajib atas kaum muslimin untuk menjadikan sebagian dari mereka berjihad setiap tahun sekali[2], berjihad memerangi musuh-musuh Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah, bukan karena sekedar membela Negara. Karena membela negara, semata-mata sebagai satu negara, itu bisa dilakukan orang mukmin dan kafir. Orang-orang kafir-pun membela negara mereka. Akan tetapi seorang muslim hanya membela agama Allah, sehingga dia membela negaranya bukan karena sekedar sebagai satu negara akan tetapi karena dia adalah negara Islam, lalu dia membelanya dalam rangka menjaga Islam. Oleh karena itu wajib atas kita pada keadaan yang kita hadapi sekarang ini, untuk mengingatkan seluruh orang bahwa seruan untuk memerdekakan negara dan yang serupa dengannya adalah seruan yang tidak pas, dan wajib bagi kita untuk mendidik manusia dengan pendidikan agama. Dan hendaklah dikatakan : Kita membela agama kita sebelum yang lainnya, karena Negara kita adalah negara agama dan negara Islam yang membutuhkan perlindungan dan pembelaan, maka kita harus membelanya dengan niat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun membela dengan niat nasionalisme atau kesukuan maka ini terjadi pada orang mukmin dan kafir, dan perbuatan tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya pada hari kiamat, jika terbunuh dalam keadaan membela Negara dengan niat ini maka dia tidak mati syahid ; karena Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang seseorang yang berperang karena kebanggaan (gengsi) dan berperang karena keberanian saja dan berperang karena ingin memperlihatkan kehebatannya, mana yang dikatakan dijalan Allah lalu beliau berkata.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : <em>Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi maka dialah yang berada di jalan Allah</em>” [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2810 kitab al-Jihad wa as-Siyar dan Muslim No. 1904 kitab al-Imarah]</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan syarat ini !! Jika kamu berperang karena negara, maka kamu dan orang kafir sama, akan tetapi berperanglah karena ingin menegakkan kalimat Allah yang dilaksanakan di negara kamu, karena negara kamu adalah negara Islam, maka pada keadaan seperti ini mungkin perang tersebut dapat dikatakan perang di jalan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Telah shahih dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : <em>Tidak ada luka yang terluka di jalan Allah dan Allah maha tahu siapa yang terluka di jalan Allah kecuali datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengeluarkan darah, warnanya warna darah tetapi wanginya wangi misk (minyak kasturi)</em>” [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2803 kitab al-Jihad dan Muslim No. 1876 (105) kitab al-Imaarah]</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan bagaiman Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mensyaratkan mati syahid dengan berperang hanya dijalan Allah, maka wajib atas para penuntut ilmu menjelaskan permasalahan ini kepada umat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahul Muwaffiq</em></p>
<p style="text-align:justify;">[Diterjemahkan oleh Abu al-Abbas Kholid bin Syamhudi dari syarah beliau terhadap kitab <em>Riyadush Shalihin</em> 1/24-28, majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun V/1422H/2002M, hal. 9-11]</p>
<p>_________</p>
<p><strong>Foote Note</strong></p>
<p>[1]. Isyarat kepada hadits Abi Hurairah secara marfu’ : “Artinya : Jauhilah tujuh dosa besar, mereka bertanya : Apakah itu wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : <em>Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan kebenaran, memakan uang riba, memakan harta anak yatim dan kabur dari medan pertempuran serta menuduh kaum mukminat yang telah menikah yang lalai dengan zinah</em>” [Dikeluarkan oleh al-Bukhari No. 2766 kitab al-Washoya dan Muslim No. 89 kitab al-Iman]</p>
<p>[2]. Yakni suatu negara Islam wajib berjihad -paling sedikit sekali dalam satu tahun- memerangi musuh untuk meningkatkan kalimat Allah, -red</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: http://ustadzkholid.com/manhaj/jihad-jihad-yang-fardhu-ain/</p>
Posted in Aqidah &amp; Manhaj  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=489&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-jihad-yang-fardhu-%e2%80%98ain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Syariat Tentang Jihad Memerangi Orang Kafir</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/konsep-syariat-tentang-jihad-memerangi-orang-kafir/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/konsep-syariat-tentang-jihad-memerangi-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 16:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[(Lanjutan Jihad dalam perspektif hukum islam)
Jihad sebagai satu amalan besar dan penting dalam islam dengan keutamaannya yang sangat banyak sekali tentunya menjadi harapan dan cita-cita seorang muslim. Oleh karena itu sangat penting sekali setiap muslim mengetahui pengertian, ketentuan dan hukum-hukum serta syarat-syarat jihad yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an, Sunnah Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=483&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:justify;">(Lanjutan <a href="http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-dalam-perspektif-hukum-islam/">Jihad dalam perspektif hukum islam</a>)</div>
<p style="text-align:justify;">Jihad sebagai satu amalan besar dan penting dalam islam dengan keutamaannya yang sangat banyak sekali tentunya menjadi harapan dan cita-cita seorang muslim. Oleh karena itu sangat penting sekali setiap muslim mengetahui pengertian, ketentuan dan hukum-hukum serta syarat-syarat jihad yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an, Sunnah Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>dan atsar para salaf umat ini. Hal–hal ini menjadi penentu kesempurnaan jihad fi sabilillah dan diterimanya amalan tersebut, sehingga kita terhindari dari celaan Allah dalam firmanNya:<big></big><big></p>
<p></big></p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</big></div>
</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Katakanlah, apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. </em>(QS. Al Kahfi: 103-104)<span id="more-483"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menganggap dirinya mati syahid padahal amalannya jauh dari kebenaran dan jauh dari aturan syariat Allah. Padahal sudah dimaklumi, amalan tidak diterima Allah sebagai amal sholih kecuali dengan dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti syariat Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Renungkan kembali wahai orang yang berakal, agar kalian beruntung!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><big>Pengertian jihad.</big></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd (<big>الجَهْد </big>) dengan difathahkan huruf <em>jim</em>-nya yang bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd ( <big>الجُهْد</big>) dengan didhommahkan huruf <em>jim</em>-nya yang bermakna kemampuan. Kalimat (<big>بَلَغَ جُهْدَهُ </big>) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan untuk dzat Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga. Dibalik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar ma’ruf nahi mungkar.[1]</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan: Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad dijalan Allah, namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak terfahami kecuali untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina.[2]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan: Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah.[3]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan beliau juga menyatakan: Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.[4]</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya tiga pendapat diatas sepakat dalam mendefinisikan jihad menurut syariat islam, hanya saja penggunaan lafadz jihad fi sabilillah dalam pernyataan para ulama biasanya digunakan untuk makna memerangi orang kafir. Oleh karena itu Syeikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al ‘Abaad menyatakan bahwa definisi terbaik dari jihad adalah definisi Ibnu Taimiyah diatas dan beliau menyatakan: Terfahami dari pernyataan Ibnu Taimiyah diatas bahwa jihad dalam pengertian syar’i adalah nama yang meliputi penggunaan semua sebab dan cara untuk mewujudkan perbuatan, perkataan dan keyakinan (i’tiqad) yang Allah cintai dan ridhoi dan menolak perbuatan, perkataan dan keyakinan yang Allah benci dan murkai.[5]</p>
<p style="text-align:justify;">Namun dalam pembahasan disini kami hanya memerinci dan menjelaskan jihad memerangi orang kafir yang masih banyak belum terfahami dan diketahui kaum muslimin sehingga diharapkan dapat bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><big>Ketentuan-ketentuan Syari’at dalam Jihad.</big></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melihat dan meneliti sunah-sunah Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>seputar permasalahan jihad memerangi orang kafir, maka dapat dikategorikan ketentuan-ketentuan jihad dalam tiga hal, yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>ketentuan jihad dari sisi hukumnya,</li>
<li>ketentuan jihad dari sisi cara dan pelakunya,</li>
<li>ketentuan jihad dari sisi pembagian hasil rampasan perangnya.[6]</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><big><strong>Ketentuan Jihad dari sisi hukum.</strong></big></p>
<p style="text-align:justify;">Jihad dari sisi hukum memiliki ketentuan-ketentuan berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Ketentuan pertama.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Membedakan hukum jihad sesuai jenisnya. Karena jihad memerangi orang kafir terbagi menjadi dua jenis. Dan syariat memberikan hukum tertentu pada setiap jenis jihad tersebut. Jihad terbagi menjadi dua:</p>
<p style="text-align:justify;">•    Jihad bertahan (Jihad Al Daf’i)</p>
<p style="text-align:justify;">•    Dan jihad menyerang (Jihad Al Tholab).</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Abdulaziz bin Baaz (wafat tahun 1420 H ) menyatakan: Jihad terbagi menjadi dua yaitu jihad Al Tholab (menyerang) dan jihad Al Daf’u (Bertahan).[7]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hukum Jihad bertahan adalah wajib atas seluruh orang yang berada didaerah yang diserang musuh</span>, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: Apabila musuh memasuki negri islam maka tidak diragukan lagi wajib melawannya atas orang yang terdekat kemudian yang seterusnya, karena negri islam semuanya dihukumi satu negeri.[8]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sedangkan jihad menyerang (jihad Al Tholab) hukumnya fardhu kifayah, apabila telah cukup dilaksanakan sebagian kaum msulimin maka yang lainnya tidak diwajibkan</span>. Inilah pendapat mayoritas ulama dengan dasar firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>لاَ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. </em>(QS. An-Nisaa`: 95)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak turut berperang tidak berdosa dengan adanya orang lain yang berperang. Demikian juga firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. </em>(QS.  At-Taubah: 122)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga karena Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>mengutus sariyah (pasukan perang tanpa dipimpin langsung oleh beliau) sedangkan beliau dan sisa para sahabat bermukim dimadinah tidak keluar berperang.[9]  Hal ini cukup jelas menunjukkan jihad menyerang orang kafir tidaklah fardhu a’in.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sebagian ulama menjelaskan beberapa keadaan jihad menjadi fardhu ‘ain yaitu:</span></p>
<p style="text-align:justify;">a.  <span style="text-decoration:underline;"><em>Jika terjadi peperangan dan berhadap-hadapan dua barisan</em>.</span> Diwajibkan berperang bagi seseorang yang ikut serta dan menyaksikan peperangan dan dilarang lari dari perang dengan syarat jumlah musuh tidak lebih dari tiga kali lipat kaum muslimin dengan dalil firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ (15) وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah meraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. </em>(QS. Al-Anfal: 15-16)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firmanNya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>اْلآَنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِئَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. </em>(QS. Al-Anfal: 66)</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya kaum kafir berjumlah tiga kali lipat dari kaum muslimin maka tidak diwajibkan berperang dan diperbolehkan mundur dan ini hanya berlaku pada jihad Al Tholab.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnu Qudamah (wafat tahun 620 H) menyatakan: Apabila kaum muslimin berjumpa (dalam peperangan) dengan kaum kafir maka wajib bertahan dan tidak mundur… diwajibkan bertahan dengan dua syarat:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>, kaum kafir tidak melebihi kelipatan kaum muslimin, apabila lebih maka boleh mundur dengan dalil firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>اْلآَنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِئَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang. </em>(QS. Al-Anfal: 66)</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun ayat ini dengan lafadz berita namun maknanya adalah perintah dengan dalil firmanNya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>اْلآَنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang Allah telah meringankan kepadamu</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">Dan seandainya ini hakekatnya adalah berita, tentu pengembalian kita dari satu orang yang mengalahkan sepuluh orang kepada satu orang yang mengalahkan dua orang, bukanlah merupakan satu keringanan. Juga karena berita Allah pasti benar dan tidak menyelihi isi berita tersebut. Telah jelas bahwa kemenangan dan kesuksesan tidak didapatkan kaum muslimin dalam setiap peperangan yang jumlah musuhnya sama atau kurang dari kaum muslimin, sehingga jelaslah bahwa ini adalah perintah dan kewajiban dan belum ada satupun ayat yang me<em>mansukh</em>kannya, tidak dalam Al Qur’an ataupun dalam sunnah, sehingga wajib berhukum dengannya. Ibnu Abas berkata: Ketika turun firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ </big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. </em>(QS. Al-Anfal: 95)</p>
<p style="text-align:justify;">Maka hal itu menyusahkan kaum muslimin ketika Allah wajibkan pada mereka tidak mundur seorang dari sepuluh orang. Kemudian datang keringanan, dalam firmanNya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>اْلآَنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِئَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang. </em>(QS. Al-Anfal: 66)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Allah berikan keringanan bagi mereka dari jumlah tersebut, berkuranglah kesabaran seukuran keringanan jumlah tersebut. (diriwayatkan Abu Daud). Ibnu Abas juga berkata : Siapa yang lari dari seorang maka ia telah kabur (mundur), yang mundur dari dua orang maka telah lari (dari perang) dan yang lari dari tiga orang maka ia tidak termasuk yang melarikan diri (dari perang).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua </strong>, tujuan mundurnya bukan untuk bergabung kepada kelompok tentara lainnya atau siasat perang. Apabila tujuan mundurnya adalah salah satu dari dua hal ini maka diperbolehkan.[10]</p>
<p style="text-align:justify;">b. <em><span style="text-decoration:underline;">Bila musuh memasuki satu daerah maka wajib bagi penduduknya untuk berperang dan membela daerahnya</span> </em>dan ini sama dengan orang yang ikut serta dan menyaksikan pertempuran. Karena bila musuh telah memasuki satu daerah maka mereka akan melarang keluar masuk daerah tersebut dan yang lainnya sehingga harus ada pembelaan. Dalam keadaan seperti ini. Inilah yang dinamakan jihad al-Daf’u (jihad bertahan).</p>
<p style="text-align:justify;">c. <span style="text-decoration:underline;"><em>Bila imam menunjuk orang-orang tertentu untuk berjihad, maka orang-orang tersebut wajib berperang</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">d. <em><span style="text-decoration:underline;">Jika imam telah mengumumkan perang umum, maka wajib bagi seluruh rakyatnya untuk berperang</span> </em>dengan dasar firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ (38) إِلاَّ تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. </em>(QS. At-Taubah: 38-39)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sabda Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا  مُتَّفّقٌ عَلَيْه</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak ada hijroh setelah penaklukan kota Makkah akan tetapi jihad dan niat. Dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah. </em>(Mutafaqun Alaihi)[11]</p>
<p style="text-align:justify;">e. <span style="text-decoration:underline;"><em>Jika seseorang dibutuhkan dalam jihad dan tidak ada yang lainnya , maka jihad wajib baginya</em></span>.[12]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Ketentuan kedua.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Jihad melawan orang kafir tidak terbatas hanya pada jihad bertahan (jihad Al daf’u) saja, sebagaimana pendapat sebagian orang yang berdalil dengan tiga ayat Al Qur’an; yaitu</p>
<p style="text-align:justify;">a. firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا </big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas. </em>(QS Al Baqarah: 190)</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh bin Baz menjawab dengan menyatakan bahwa ayat ini tidak menunjukkan perang untuk bertahan (Jihad Al Daf’u), namun maknanya adalah: memerangi orang yang terlibat dalam peperangan, seperti orang yang kuat lagi mukallaf dan membiarkan orang yang tidak terlibat seperti wanita, anak-anak dan semisalnya sehingga Allah  berfirman setelah itu:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. </em>(QS. Al Baqarah: 193)</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga jelaslah kebatilan pendapat ini. Kemudian seandainya benar pendapat mereka maka ayat ini telah dimansukh (dihapus hukumnya) oleh ayat pedang.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).</em> (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab bahwa ayat ini tidak bisa dijadikan dalil, karena ayat ini khusus untuk ahli kitab dan majusi dan sejenisnya. Mereka tidak dipaksa masuk islam jika telah menunaikan jizyah (upeti), ini adalah salah satu pendapat ulama dalam makna ayat. Pendapat kedua menyatakan bahwa ayat ini mansukh dengan ayat pedang. Dan (yang benar) tidak butuh nasakh, bahkan ia adalah khusus untuk ahli kitab sebagaimana ada dalam tafsir dari beberapa ulama sahabat dan salaf. Sehingga ayat ini khusus untuk ahli kitab dan sejenisnya, mereka tidak dipaksa apabila telah menunaikan jizyah (upeti), demikian juga orang yang disamakan hukumnya dengan mereka dari kalangan majusi dan yang lainnya apabila telah menunaikan upeti maka tidak dipaksa (masuk Islam). Juga karena yang rojih (pendapat yang kuat) menurut para ulama hadits dan ushul bahwa tidak menggunakan nasakh  apabila memungkinkan komprominya. Apalagi telah diketahui bahwa cara kompromi memungkinkan dalam hal ini. Apabila mereka enggan juga masuk islam dan bayar jizyah maka diperangi sebagaimana dijelaskan ayat-ayat yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">c. firman Allah :</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلاً</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk melawan dan membunuh) mereka. </em>(QS. An-Nisaa`: 90)</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka menyatakan, yang membiarkan dan tidak memerangi kita tentunya tidak kita perangi. Telah kamu ketahui bahwa ini terjadi pada keadaan kaum muslimin lemah diawal hijrohnya mereka ke Madinah, kemudian dinasakh dengan ayat pedang dan selesai perkaranya. Atau bisa juga difahami bahwa hal ini ada pada keadaan lemah kaum muslimin, sehingga bila telah kuat maka diperintahkan untuk berperang, sebagaimana pendapat lainnya yang telah kamu ketahui, yaitu tidak menggunakan nasakh. Dengan demikian jelaslah kebatilan pendapat ini dan pendapat ini tidak memiliki dasar dan sisi kebenarannya.[13]</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalil jihad al tholab dan dakwah adalah adanya tentara dan sariyah yang Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>utus untuk mendakwahi dan memerangi orang agar masuk islam. Bahkan disampaikan Ibnu Umar bahwa beliau <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai bersaksi sesungguhnya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah (Syahadatain), menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal tersebut maka terjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka pada Allah</em>.[14]</p>
<p style="text-align:justify;">Hal inipun dikuatkan dengan firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. </em>(QS. Al-Anfal: 39)</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Ketentuan ketiga</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Membedakan antara jihad syar’i dengan jihad bid’ah sehingga berjihad sesuai dengan syari’at dan sesuai dengan tujuan jihad, yaitu meninggikan kalimat Allah dan menjadikan seluruh agama (din) hanya untuk Allah, seperti disampaikan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>dalam hadits Abu Musa Al Asy’ari yang berbunyi:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Seseorang mendatangi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: seseorang berperang untuk mendapatkan harta rampasan dan seseorang berperang untuk dikenang serta seseorang berperang untuk dilihat kedudukannya, maka mana yang berada dijalan Allah. Beliau menjawab: “Orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka ialah yang berada dijalan Allah.”</em>[15]</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian maka <span style="text-decoration:underline;">jihad yang syar’i adalah jihad yang bertujuan meninggikan kalimat Allah dan menjadikan din ini seluruhnya hanya untukNya</span>. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Taimiyah (Wafat tahun 728): Maksud tujuan jihad adalah meninggikan kalimat Allah dan menjadikan agama seluruhnya hanya untuk Allah.[16]</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan dasar ini maka jihad yang ditujukan untuk menampilkan dan menjunjung kebid’ahan dan yang dilakukan diluar koridor dan ketentuan syariat islam, bukan dinamakan jihad syar’i. Dan keyakinannya bahwa itu jihad dijalan Allah tidak akan bermanfaat. Oleh karena itu wajib mengetahui jihad yang syar’i agar terhindar dari jihad yang bid’ah. Ibnu Taimiyah memberikan pernyataan: <strong>Namun wajib mengetahui jihad syar’i yang Allah dan RasulNya perintahkan, dari jihad bid’ah</strong>; jihadnya orang-orang sesat yang berjihad dalam ketaatan syetan dengan keyakinan bahwa mereka berjihad dalam ketaatan Allah, contohnya jihad pengekor hawa nafsu dan kebid’ahan seperti Khowarij dan sejenisnya yang berjihad menghadapi kaum muslimin dan orang yang lebih utama disisi Allah dan RasulNya dari pada mereka dari kalangan <em>Al Sabiqunal Awalin </em>dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau menyatakan kembali: Mujahid fi sabilillah adalah orang yang berjihad untuk meninggikan kalimat Allah dan menjadikan din (agama) seluruhnya untuk Allah, sebagaimana ada dalam <em>shohihain </em>dari Abu Musa:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً فَأَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Seorang datang menemui Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Seorang berjihad karena fanatis dan berperang untuk menampakkan keberanian serta berperang untuk riya’, maka mana yang fi sabilillah? Maka beliau menjawab: “Orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka ialah yang berada dijalan Allah.”</em>[17]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. </em>(QS. Al-Anfal: 39).</p>
<p style="text-align:justify;">Jihad dengan lisan termasuk jihad yang pernah Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>lakukan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلاَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar. </em>(QS. Al-Furqan: 51-52)</p>
<p style="text-align:justify;">Jika demikian, maka pada asalnya jihad untuk menjadikan dien (agama) seluruhnya untuk Allah, dengan cara menjadikan ibadah hanya kepadaNya saja sebagai agama (dien) yang tampak dan menang dan menjadikan ibadah kepada selain Allah kalah lagi tertutup atau batil dan hilang, sebagaimana ada pada kaum munafiqin dan ahli dzimmah. Karena tidak mungkin jihad dilakukan sampai seluruh hati menjadi baik, lalu petunjuk hati hanya ada ditangan Allah dan hanya ada ketika dien (agama) yang menang adalah agama Allah sebagaimana firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya. </em>(QS. At-Taubah: 33)</p>
<p style="text-align:justify;">Telah dimaklumi bahwa lawan agama yang terbesar adalah syirik, sehingga memerangi orang musyrik termasuk jihad yang terbesar, sebagaimana yang ada pada jihad <em>Al Sabiqun Al Awalun</em>. Dan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>telah bersabda:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka ialah yang berada dijalan Allah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kalimat Allah disini apabila yang dimaksud adalah kata itu sendiri maka ia bermakna tauhid <em>“La Ilaha Illa Allah” </em>sehingga hal ini termasuk dalam kandungan ayat. Dan apabila yang dimaksud adalah jenisnya maka bermakna perkataan Allah dan RasulNya <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, maka itu adalah perkataan tertinggi atas yang lainnya dan itu adalah Al Qur’an kemudian As Sunnah. Maka siapa yang berpendapat dengan perkataan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>dan memerintah dengan perintahnya serta melarang dari larangannya maka ia telah meninggikan kalimat Allah dan siapa yang berpendapat menyelisihi hal itu baik perkataan yang menyelisihi perkataan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>maka ia yang pantas untuk diperangi. [18]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketentuan keempat</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jihad Al Tholab dan Dakwah hanya dilakukan pada keadaan kuat dan mampu, karena jihad merupakan bagian dari ibadah dan ibadah tidak diwajibkan kecuali bagi yang mampu, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. </em>(QS. Al-Baqarah: 286)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga firmanNya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأَنْفُسِكُمْ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. </em>(QS. At-Taghabun: 16)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga sabda Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Biarkanlah aku atas apa yang aku tinggalkan pada kalian, sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian disebabkan pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap para nabi. Sehingga apabila aku telah melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah dan jika aku perintahkan satu perintah maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian</em>.[19]</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: Para ulama sepakat menyatakan bahwa ibadah tidak diwajibkan kecuali pada orang yang mampu.[20]</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu <em>Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Islamiyah Wal Ifta </em>(Komite tetap untuk penelitian islam dan fatwa) Saudi Arabia berfatwa: Al Jihad untuk meninggikan kalimat Allah, melindungi islam, memudahkan penyampaian dan penyebaran Islam dan menjaga kesuciannya adalah fardhu (wajib) atas orang yang mampu dan sanggup melakukannya, namun hal itu harus dengan mengirim tentara dan mengaturnya, karena khawatir kacau balau dan terjadi hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, yang memulai dan mencampurinya adalah urusan para penguasa kaum muslimin. Sehingga Para ulama wajib memotivasi para penguasa untuk itu. Apabila penguasa telah memulai dan mengerahkan kaum muslimin, maka bagi yang mampu berperang wajib memenuhi panggilan tersebut dengan mengikhlaskan niat hanya mengharap wajah Allah dan berharap dapat membela kebenaran serta melindungi islam. Siapa yang tidak ikut serta padahal ada seruan dan tidak ada udzur maka ia berdosa.[21]</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin (wafat tahun 1421 H) menyatakan: Jihad harus dengan syarat yaitu kaum muslimin memiliki kemampuan dan kekuatan yang memungkinkan mereka dapat berperang. Karena apabila mereka tidak memiliki kemampuan maka melibatkan diri mereka dalam peperangan merupakan upaya bunuh diri. Oleh karena itu Allah tidak mewajibkan kaum muslimin berperang ketika mereka di Makkah, karena mereka tidak mampu dan lemah, lalu ketika mereka telah berhijroh ke Madinah dan membentuk negara islam dan memiliki kekuasaan, maka mereka diperintahkan untuk berperang. Atas dasar ini maka harus dengan syarat ini dan bila tidak ada, maka hilanglah kewajiban tersebut dari mereka seperti kewajiban-kewajiban lainnya, karena seluruh kewajiban disyaratkan padanya kemampuan.[22]</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Ketentuan inipun dikuatkan dengan beberapa hal berikut</span>:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). </em>(QS. Al-Anfal: 60)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini menunjukan perlunya persiapan dan kekuatan sebelum berperang dan berjihad. Oleh karena itu, jihad berperang disyariatkan secara bertahap dalam beberapa marhalah.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Allah mensyaratkan jumlah tertentu untuk kewajiban berperang yaitu seorang muslim berhadapan dengan dua orang, sebagaimana firmanNya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>اْلآَنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِئَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar</em>. (QS. Al-Anfal: 66)</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga tidak diwajibkan memerangi orang kafir dalam jihad Al Tholab apabila mereka lebih banyak dari kelipatan tersebut. Namun dalam jihad Al Daf’u hal ini tidak disyaratkan sebagaimana kejadian perang <em>Uhud </em>dan <em>Khondak</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Di antara dalil yang menunjukkan syarat kemampuan dalam berjihad adalah hadits Al Nuwaas bin Sam’aan <em>radhiyallohu ‘anhu</em> yang cukup panjang tentang kisah Dajjal dan turunnya nabi Isa Al Masih <em>‘alaihis salaam</em>. Di antara isinya adalah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>إِذْ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ ِلأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ ِلأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ ِلأَحَدِكُمْ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ </big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Tiba-tiba Allah wahyukan kepada Isa bahwa Sungguh Aku (Allah) telah mengeluarkan hamba ciptaanKu yang tidak sanggup seorang pun memerangi mereka. Maka berlindunglah wahai hambaKu ke bukit Thur. Lalu Allah mengirim Ya’juj dan Ma’juj dalam keadaan berjalan cepat dari semua arah, lalu kelompok pertama mereka melewati danau Thobariyah lalu meminum semua isinya dan kelompok akhir mereka melewati danau tersebut lalu mengatakan: dahulu pernah ada air disini. Nabi Isa dan sahabat-sahabatnya terkepung sampai kepala sapi jantan lebih berharga bagi seorang dari mereka dari seratus dinar milik salah seorang dari kalian sekarang ini. Lalu Nabi Isa dan para sahabatnya memohon kepada Allah. Kemudian Allah kirim ulat (yang biasa ada pada onta yang berpenyakit) pada leher-leher mereka sehingga mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan seperti kematian satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan para sahabatnya turun (dari bukit) ke daratan dan tidak mendapatkan satu jengkal pun di tanah kecuali dipenuhi oleh mayat dan bau busuk mereka</em>.[23]</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa ketika nabi Isa dan kaum mukminin yang bersamanya tidak memiliki kemampuan untuk memerangi Ya’juj dan Ma’juj, maka Allah perintahkan mereka untuk tidak memerangi mereka, lalu bagaimana keadaan umat islam yang dalam keadaan lemah kekuatan dan kemampuannya?[24]</p>
<p style="text-align:justify;">Jihad harus melihat keadaan kuat dan lemahnya kaum muslimin. Oleh karena itu Syeikh Abdurrazaq Al ‘Abaad menyatakan: Hendaknya jihad fi sabilillah dilaksanakan sesuai kuat dan lemahnya keadaan kaum muslimin, karena keadaan kaum muslimin berbeda-beda sesuai zaman dan tempat. (Bersambung insyaAllah)</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">ustadzkholid.com</a></p>
<p style="text-align:justify;">=====================================</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan Kaki:</p>
<p style="text-align:justify;">[1] <em>Al I’lam Bi Fawa’id Umdat Al Ahkam</em>, Ibnu Al Mulaqqin, tahqiq Abdulaziz Ahmad Al Musyaiqih, cetakan pertama tahun 1421H, Dar Al ‘Ashimah, 10/267.</p>
<p style="text-align:justify;">[2] <em>Muqaddimah Ibnu Rusyd </em>1/369, kami nukil dari kitab <em>Mauqif Al Muslim Minal Qitaal Fil Fitan</em>, Utsman Mu’allim Mahmud cetakan pertama tahun 1416 H, Dar Al Fath 41 dan majalah <em>Al Asholah </em>edisi 21/IV/ 15 rabi’ul awal 1420 H hal. 43</p>
<p style="text-align:justify;">[3] <em>Majmu’ Al Fatawa </em>10/192-193</p>
<p style="text-align:justify;">[4] ibid 10/191</p>
<p style="text-align:justify;">[5] <em>Al Quthuf Al Jiyaad </em>5.</p>
<p style="text-align:justify;">[6] Lihat makalah <em>Dhowabith Al Jihad Fi Al Sunnah Al Nabawiyah</em>, Muhammad Umar Bazamul hal 4-5.</p>
<p style="text-align:justify;">[7] <em>Majmu’ Fatawa Wa Maqaalat Mutanawi’ah </em>18/70.</p>
<p style="text-align:justify;">[8] <em>Al Ikhtiyaraat </em>(311) dinukil dari catatan kaki <em>Al Syarhu Al Mumti’ </em>8/12.</p>
<p style="text-align:justify;">[9] Lihat <em>Al Mughni</em>, Ibnu Qudamah, tahqiq Al Turki, cetakan kedua tahun 1413H, Dar Al Hijr, 13/6-7</p>
<p style="text-align:justify;">[10] Al Mughni 13/186 dengan diringkas.</p>
<p style="text-align:justify;">[11] Dikeluarkan oleh al-Bukhori No. 2783 kitab <em>al-Jihad wa as-siyar</em> dan Muslim No. 1864 kitab <em>al-Imarah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">[12] Lihat penjelasan pembagian keadaan jihad ini pada kitab <em>Al Mughni </em>13/8 dan <em>Al Syarhu Al Mumti’ </em>8/10-14</p>
<p style="text-align:justify;">[13] Bantahan syeikh Bin Baaz ini diambil dari <em>Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Mutanawwi’ah</em>, Syeikh bin Baaz, disusun oleh Muhammad bin Sa’ad Al Sywai’ir, cetakan pertama tahun 1420H Dar Al Qaasim, 3/198-199</p>
<p style="text-align:justify;">[14] HR Al Bukhori dalam kitab Al Iman, bab “فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ   ” hadits no. 25.</p>
<p style="text-align:justify;">[15] HR Al Bukhori dalam kitab Al Jihad wal Maghazi, bab  مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا no. 2599.</p>
<p style="text-align:justify;">[16] Lihat <em>Majmu’ Fatawa </em>15/170</p>
<p style="text-align:justify;">[17] HR Al Bukhori dalam <em>kitab Al Tauhid,</em>no.6904.</p>
<p style="text-align:justify;">[18] <em>Al Radd ‘Ala Al Akhnaa’i </em>hal 326-329 diambil dari makalah <em>Dhawaabith Al Jihad Fi Al Sunnah Al Nabawiyah </em>hal 8.</p>
<p style="text-align:justify;">[19] HR Al Bukhori, <em>kitab Al I’tishom Bil Kitab Wa As Sunnah , Bab Al Iqtida’ bisunani Rasulillah</em> no. 7288.</p>
<p style="text-align:justify;">[20] <em>Majmu’ Fatawa </em>8/479.</p>
<p style="text-align:justify;">[21] Ditandatangani oleh Syeikh Abdulaziz bin Baaz, Abdurrazaq Afifi, Abdullah Ghadiyan dan Abdullah bin Qu’ud. Fatwa no. 7122 dalam <em>Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts Al Islamiyah Wal Ifta </em>disusun Syeikh Ahmad Abdurrazaq Al Duwaisy, cetakan pertama tahun 1419 H, Dar Al A’shimah, 12/12.</p>
<p style="text-align:justify;">[22] <em>Syarhul Mumti’ </em>8/9-10.</p>
<p style="text-align:justify;">[23] HR Muslim kitab <em>Al Fitan Wa Asyratus Saa’ah Bab Dzikru Al Dajjal </em>no. 2937</p>
<p style="text-align:justify;">[24] Makalah <em>Dhowaabith Al Jihaad Fi Al Sunnah Al Nabawiyah</em>,  Muhammad Umar Bazamul. Hal 10.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: http://ustadzkholid.com/manhaj/konsep-syariat-tentang-jihad-memerangi-orang-kafir/</p>
Posted in Aqidah &amp; Manhaj  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=483&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/konsep-syariat-tentang-jihad-memerangi-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jihad dalam Perspektif Hukum Islam</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-dalam-perspektif-hukum-islam/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-dalam-perspektif-hukum-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 16:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah & Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[Tidak diragukan lagi bahwa jihad adalah amal kebaikan yang Allah syari’atkan dan menjadi sebab kokoh dan kemuliaan umat islam. Sebaliknya (mendapatkan kehinaan) bila mereka meninggalkan jihad di jalan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shohih [1] :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=479&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Tidak diragukan lagi bahwa jihad adalah amal kebaikan yang Allah syari’atkan dan menjadi sebab kokoh dan kemuliaan umat islam. Sebaliknya (mendapatkan kehinaan) bila mereka meninggalkan jihad di jalan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shohih [1] :</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasululloh bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.”</em> (HR Abu Daud)</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah menyatakan: Tidak diragukan lagi bahwa jihad dan melawan orang yang menyelisihi para rasul dan mengarahkan pedang syariat kepada mereka serta melaksanakan kewajiban-kewajiban disebabkan pernyataan mereka untuk menolong para nabi dan rasul dan untuk menjadi pelajaran berharga bagi yang mengambilnya sehingga dengan demikian orang-orang yang menyimpang menjadi kapok, termasuk amalan yang paling utama yang Allah perintahkan kepada kita untuk menjadikannya ibadah mendekatkan diri kepadaNya. [2]<span id="more-479"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Namun amal kebaikan ini harus memenuhi syarat ikhlas dan sesuai dengan syariat islam. Karena keduanya adalah syarat diterima satu amalan. Disamping juga jihad bukanlah perkara mudah bagi jiwa dan memiliki hubungan dengan pertumpahan darah, jiwa dan harta yang menjadi perkara agung dalam Islam sebagaimana disampaikan Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>dalam sabdanya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَعْرَاضَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ اشْهَدْ فَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ فَلاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ</big></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya darah, kehormatan dan harta kalian diharamkan atas kalian (saling mendzoliminya) seperti kesucian hari ini, pada bulan ini dan di negri kalian ini sampai kalian menjumpai Robb kalian, ketahuilah apakah aku telah menyampaikan? Mereka menjawab: Ya. Maka beliau pun berkata: Ya Allah persaksikanlah, maka hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena terkadang yang disampaikan lebih mengerti dari yang mendengar langsung. Maka janganlah kalian kembali kufur sepeninggalku, sebagian kalian saling membunuh sebagian lainnya.</em> (Muttafaqun ‘Alaihi) [3]</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian agungnya perkara jihad ini menuntut setiap muslim melakukannya untuk menggapai cinta dan keridhoan Allah. Tentu saja hal ini menuntut pelakunya untuk komitmen terhadap ketentuan dan batasan syari’at, komitmen terhadap batasan dan hukum Al Qur’an dan Sunnah Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, merealisasikan target dan tujuan syari’at tanpa meninggalkan satu ketentuan dan batasannya, agar selamat dari sikap ekstrim dan berlebihan sehingga jihadnya menjadi jihad syar’i diatas jalan yang lurus dan dia mendapatkan akibat dan pahala yang besar diakhirat nanti. Hal itu karena ia berjalan diatas cahaya ilahi, petunjuk dan ilmu dari Al Qur’an dan sunnah NabiNya <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. [4]</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk belajar mengenai konsep islam tentang jihad secara benar dan bertanya kepada para ulama pewaris nabi tentang hal-hal yang belum ia ketahui. Apalagi dalam permasalahan yang sangat penting dan berbahaya ini, dan di masa kaum muslimin tidak mengenal syari’atnya dengan benar. Sebab bisa jadi yang dianggap jihad syar’i sebenarnya adalah jihad bid’ah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian Jihad dalam Pandangan Islam.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd (الجَهْد ) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd ( الجُهْد) dengan didhommahkan huruf jimnya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ ) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan untuk dzat Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga. Dibalik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar ma’ruf nahi mungkar. [5]</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan: Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad dijalan Allah, namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak terfahami kecuali untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina. [6]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan: Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah. [7]</p>
<p style="text-align:justify;">Dan beliau juga menyatakan: Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. [8]</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya tiga pendapat diatas sepakat dalam mendefinisikan jihad menurut syariat islam, hanya saja penggunaan lafadz jihad fi sabilillah dalam pernyataan para ulama biasanya digunakan untuk makna memerangi orang kafir. Oleh karena itu Syeikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al ‘Abaad menyatakan bahwa definisi terbaik dari jihad adalah definisi Ibnu Taimiyah diatas dan beliau menyatakan: Terfahami dari pernyataan Ibnu Taimiyah diatas bahwa jihad dalam pengertian syar’i adalah nama yang meliputi penggunaan semua sebab dan cara untuk mewujudkan perbuatan, perkataan dan keyakinan (i’tiqad) yang Allah cintai dan ridhoi dan menolak perbuatan, perkataan dan keyakinan yang Allah benci dan murkai. [9]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jenis dan Tingkatan Jihad.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata jihad bila didengar banyak orang maka konotasinya adalah jihad memerangi orang kafir. Padahal hal ini hanyalah salah satu dari bentuk dan jenis jihad karena pengertian jihad lebih umum dan lebih luas dari hal tersebut. Oleh karena itu, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan jenis jihad ditinjau dari obyeknya dengan menyatakan: Jihad memiliki empat martabat, yaitu jihad memerangi nafsu, jihad memerangi syetan, jihad memerangi orang kafir dan jihad memerangi orang munafik. [10]  Namun dalam keterangan selanjutnya Ibnu Al Qoyyim menambah dengan jihad melawan pelaku kezaliman, bid’ah dan kemungkaran.[11]</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau menjelaskan 13 martabat bagi jenis-jenis jihad diatas dengan menyatakan: Lalu jihad memerangi nafsu memiliki empat tingkatan:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Jihad memeranginya untuk belajar petunjuk ilahi dan agama yang lurus yang menjadi sumber keberuntungan dan kebahagian dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Siapa yang kehilangan ilmu petunjuk ini maka akan sengsara di dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Jihad memeranginya untuk mengamalkannya setelah mengetahuinya. Kalau tidak demikian, maka sekadar hanya mengilmuinya tanpa amal, jika tidak membahayakannya, maka tidak akan memberi manfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Jihad memeranginya untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu tersebut kepada yang tidak mengetahuinya. Kalau tidak demikian, ia termasuk orang yang menyembunyikan petunjuk dan penjelasan yang telah Allah turunkan. Dan ilmunya tersebut tidak bermanfaat dan tidak menyelamatkannya dari adzab Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Jihad memeranginya untuk tabah menghadapi kesulitan dakwah, gangguan orang dan sabar memanggulnya karena Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila telah sempurna empat martabat ini maka ia termasuk Rabbaniyun. Hal ini karena para salaf sepakat menyatakan bahwa seorang alim (ulama) tidak berhak disebut Rabbani sampai mengenal kebenaran, mengamalkannya dan mengajarkannya. Sehingga orang yang berilmu, beramal dan mengajarkannya sajalah yang dipanggil sebagai orang besar di alam langit.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jihad memerangi syetan memiliki dua martabat:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Memeranginya untuk menolak syubhat dan keraguan yang merusak iman yang syetan tembakkan kepada hamba.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Memeranginya untuk menolak keingininan buruk dan syahwat yang syetan lemparkan kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jihad yang pertama dilakukan dengan yakin dan kedua dengan kesabaran, Allah berfirman:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.</em> (QS. As-Sajdah: 24)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah menjelaskan bahwa kepemimpinan agama hanyalah didapatkan dengan kesabaran dan yakin, lalu dengan kesabaran ia menolak syahwat dan keinginan rusak dan dengan yakin ia menolak keraguan dan syubhat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan jihad memerangi orang kafir dan munafiqin, maka memiliki 4 martabat; dengan hati, lisan, harta dan jiwa. Jihad memerangi orang kafir lebih khusus dengan tangan sedangkan jihad memerangi orang munafiq lebih khusus dengan lisan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang jihad memerangi pelaku kedzoliman, kebidahan dan kemungkaran memiliki 3 martabat; pertama dengan tangan bila mampu, apabila tidak mampu, pindah dengan lisan, bila juga tidak mampu maka dengan hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah tiga belas martabat jihad dan barang siapa yang meninggal dan belum berperang dan tidak pernah membisikkan jiwanya untuk berperang maka meninggal diatas satu cabang kemunafiqan [12] . [13]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan imam Ibnul Qayyim diatas dapat diambil beberapa pelajaran:</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Banyak kaum muslimin memahami jihad hanya sekedar jihad memerangi orang kafir saja, ini adalah pemahaman parsial.</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Sudah seharusnya seorang muslim memulai jihad fi sabilillah dengan jihad nafsi untuk taat kepada Allah dengan cara memerangi jiwa untuk menuntut ilmu dan memahami agama (din) Islam dengan memahami Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf sholeh. Kemudian mengamalkan seluruh ilmu yang dimilikinya, karena maksud tujuan ilmu adalah diamalkan. Setelah itu maka memerangi jiwa untuk berdakwah mengajak manusia kepada ilmu dan amal lalu bersabar dari semua gangguan dan rintangan ketika belajar, beramal dan berdakwah. Inilah jihad memerangi nafsu yang merupakan jihad terbesar dan didahulukan dari selainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim rahimahulloh menyatakan: “Ketika jihad memerangi musuh Allah yang diluar (jiwa) adalah cabang dari jihad memerangi jiwa, sebagaimana sabda nabi <em>shollallohu ‘alaih wa sallam</em>:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Maka jihad memerangi jiwa didahulukan dari jihad memerangi musuh-musuh Allah yang diluar (jiwa), dan menjadi induknya. Karena orang yang belum berjihad (memerangi) jiwanya terlebih dahulu untuk melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan serta belum memeranginya di jalan Allah, maka ia tidak dapat memerangi musuh yang diluar. Bagaimana ia mampu berjihad memerangi musuhnya padahal musuhnya yang disampingnya berkuasa dan menjajahnya serta belum ia jihadi dan perangi. Bahkan tidak mungkin ia dapat berangkat memerangi musuhnya sebelum ia berjihad memerangi jiwanya untuk berangkat berjihad?” [14]</p>
<p style="text-align:justify;">Jihad memerangi jiwa hukumnya wajib atau fardhu ‘ain tidak bisa diwakili orang lain, karena jihad ini berhubungan dengan pribadi setiap orang. [15]</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Para ulama menjelaskan bahwa pintu syetan menggoda manusia ada dua yaitu Syahwat dan Syubhat. Syetan mendatangi manusia dan melihat apabila ia seorang yang lemah iman, dan sedikit ketaatannya kepada Allah, maka syetan menariknya melalui jalan atau pintu syahwat. Dan bila syetan mendapatinya sangat komitmen dengan agamanya dan kuat imannya maka dia akan menariknya dari pintu syubhat, keraguan dan menjerumuskannya kepada kebid’ahan. [16]</p>
<p style="text-align:justify;">Jihad melawan syetan ini hukumnya fardhu ‘ain juga karena berhubungan langsung dengan setiap peribadi manusia, sebagaimana firman Allah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu).</em> (QS. Fathir: 6)</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Jihad melawan orang kafir dan munafiqin dilakukan dengan hati, lisan, harta dan jiwa sebagaimana disabdakan Rasulullah <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>dalam hadits Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ </big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pengertian jihad melawan orang kafir dan munafiq dengan hati adalah membenci mereka dan tidak memberikan loyalitas dan kecintaan serta senang dengan kerendahan dan kehinaan mereka dan sikap lainnya yang ada dalam Al Qur’an dan sunnah yang berhubungan dengan hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengertian jihad dengan lisan adalah dengan mejelaskan kebenaran, membantah kesesatan dan kebatilan-kebatilan mereka dengan hujjah dan bukti kongkrit. Sedangkan pengertian jihad dengan harta adalah dengan menafkahkan harta di jalan Allah dalam perkara jihad perang atau dakwah serta menolong dan membantu kaum muslimin. Adapun jihad dengan jiwa maksudnya adalah memerangi mereka dengan tangan dan senjata sampai mereka masuk islam atau kalah, sebagaimana firman Allah,</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ </big></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. </em>(QS. Al-Baqarah: 193)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan firmanNya:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ</big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. </em>(QS. At-Taubah: 29)</p>
<p style="text-align:justify;">Kaum kafir dan munafiqin diperangi dengan keempat jihad diatas. Namun kaum kafir lebih khusus dihadapi dengan tangan karena permusuhannya terang-terangan. Sedangkan munafiqin dengan lisan karena permusuhannya tersembunyi dan gamang dalam keadaan mereka dibawah kekuasaan kamu muslimin, sehingga diperangi dengan hujjah dan dibongkar keadaan asli mereka serta dijelaskan sifat-sifat mereka, agar orang-orang tahu hal itu dan berhati-hati dari mereka dan dari terjerumus pada kemunafikan tersebut. [17]</p>
<p style="text-align:justify;">5.    Beliau mengutarakan jihad memerangi pelaku kezaliman, kebid’ahan dan kemungkaran dilakukan dengan tiga martabat; dengan tangan, bila tidak mampu maka dengan lisan dan bila tidak mampu juga maka dengan hati.  Hal ini didasarkan pada hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu ‘anhu yang berbunyi:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Rasululloh shollallohu ‘alaih w sallam bersabda, “Siapa yang melihat dari kalian satu kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya lalu bila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itu selemah-lemahnya iman.” </em>(HR Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap muslim dituntut berjihad menghadapi pelaku perbuatan dzalim, bid’ah dan mungkar sesuai dengan kemampuannya dan dengan memperhatikan kaedah-kaedah amar ma’ruf nahi mungkar. Demikianlah Rasululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>jelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallohu ‘anhu yang berbunyi:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Sesungguhnya Rasululloh shollalohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang Allah utus pada satu umat sebelumku kecuali memiliki pembela-pembela (hawariyun) dari umatnya dan sahabat-sahabat yang mencontoh sunnahnya dan melaksanakan perintahnya, kemudian datang generasi-generasi pengganti mereka yang berkata apa yang tidak mereka amalkan dan mengamalkan yang tidak diperintahkan. Siapa yang menghadapi mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, siapa yang menghadapi mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin, dan siapa yang menghadapi mereka dengan hatinya maka ia seorang mukmin. Tidak ada setelah itu sekecil biji sawi dari iman. </em>(HR. Muslim, Kitab Al Iman  no. 71)</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap muslim pasti mampu melakukan jihad jenis ini dengan hatinya dan itu dengan cara mengingkari dan membenci kebid’ahan, kedzaliman dan kemungkaran dengan hatinya dan berharap hilangnya hal-hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Maksud Tujuan Jihad </strong>[18]</p>
<p style="text-align:justify;">Satu kepastian bahwa Allah tidak mewajibkan dan mensyariatkan sesuatu tanpa adanya maksud tujuan yang agung. Demikian juga jihad disyariatkan untuk tujuan-tujuan tertentu yang telah dijelaskan para ulama dalam pernyataan-pernyataan mereka. Di sini akan disampaikan sebagian pernyataan tersebut agar dapat kita petik maksud dan tujuan jihad dalam Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: Maksud tujuan jihad adalah meninggikan kalimat Allah dan menjadikan agama seluruhnya hanya untuk Allah. [19]</p>
<p style="text-align:justify;">2.    Beliau juga menyatakan: Maksud tuuan jihad adalah agar tidak ada yang disembah kecuali Allah, sehingga tidak ada seorang pun yang berdoa, sholat, sujud dan puasa untuk selain Allah. Tidak berumroh dan berhaji kecuali ke rumahNya (Ka’bah), tidak disembelih sembelihan kecuali untukNya dan tidak bernazar dan bersumpah kecuali denganNya …[20]</p>
<p style="text-align:justify;">3.    Syeikh Abdurrahman bin Nashir Al Sa’di menyatakan: Jihad ada dua jenis; pertama jihad dengan tujuan untuk kebaikan dan perbaikan kaum mukminin dalam aqidah, akhlak, adab (prilaku) dan seluruh perkara dunia dan akhirat mereka serta pendidikan mereka baik ilmiyah dan amaliyah. Jenis ini adalah induk jihad dan tonggaknya, serta menjadi dasar bagi jihad yang kedua yaitu jihad dengan maksud menolak orang yang menyerang islam dan kaum muslimin dari kalangan orang kafir, munafiqin, mulhid dan seluruh musuh-musuh agama dan menentang mereka. [21]</p>
<p style="text-align:justify;">4.    Syeikh Abdulaziz bin Baaz menyatakan: Jihad terbagi menjadi dua yaitu jihad Al Tholab (menyerang) dan jihad Al Daf’u (Bertahan). Maksud tujuan keduanya adalah menyampaikan agama Allah dan mengajak orang mengikutinya, mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya islam dan meninggikan agama Allah di muka bumi serta menjadikan agama ini hanya untuk Allah semata, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an dalam surat Al Baqarah:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. </em>(QS. Al-Baqarah: 193)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam surat Al Anfal:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. </em>(QS. Al-Anfal: 39)</p>
<p style="text-align:justify;">dan ayat yang semakna dengannya banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>sendiri menyatakan:</p>
<div style="text-align:justify;"><big></big><big>أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ</p>
<p></big></div>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku diperintahkan memerangi manusia hingga bersaksi dengan syahadatain, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah berbuat demikian maka darah dan harta mereka telah terjaga dariku kecuali dengan hak islam, dan hisab mereka diserahkan kepada Allah. </em>(Muttafaqun Alaihi) [22]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keterangan para ulama diatas jelaslah bahwa maksud tujuan disyariatkannya jihad adalah untuk menegakkan agama Islam dimuka bumi ini dan bukan untuk dendam pribadi atau golongan sehingga dibutuhkan sekali pengetahuan tentang konsep islam dalam jihad baik secara hukum, cara berjihad dan ketentuan harta rampasan perang sebagai satu konsekwensi dari pelaksanaan jihad.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ust. Kholid Syamhudi, Lc.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">==============================</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1] Diambil dari pernyataan syeikh Al Albani dalam Al Salafiyun Wa Qadhiyah Falestina Fi Waaqi’ina Al Mu’ashir karya Muhammad Kaamil Al Qadhdhaab dan Muhammad ‘Izuddin Al Qassaam, ditakhrij dan diberi Muqaddimah oleh Syeikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman, cetakan pertama tahun 1423 H =2002M, penerbit Markaz Baitul Maqdis Liddriasaat Al Tautsiqiyyah hal.65</p>
<p style="text-align:justify;">[2] dinukil dari makalah berjudul Dhwabith Jihaad Fi Al Sunnah Al Nabawiyah oleh DR. Muhammad Umar Bazamul hal. 4 menukil dari kitab Al Radd ‘Ala Al Akhna’I oleh Ibnu Taimiyah hal 326-329.</p>
<p style="text-align:justify;">[3] HR Al Bukhori – kitab Ilmu -no. 67 dan Muslim –kitab Al Qasaamah wal Muhaaribin Wal Qishash- bab Taghlidz tahrim Al Dima’ Wal Aghradh Wal Amwal.- no. 1679</p>
<p style="text-align:justify;">[4] disarikan dari Al Quthuf Al Jiyaad Min Hikam Wa Ahkam Al Jihad, karya Prof. DR. Abdurrazaq bin Abdilmuhsin Al ‘Abaad, cetakan pertama tahun 1425 H, Dar Al Mughni. Hal 4.</p>
<p style="text-align:justify;">[5] Al I’lam Bi Fawa’id Umdat Al Ahkam, Ibnu Al Mulaqqin, tahqiq Abdulaziz Ahmad Al Musyaiqih, cetakan pertama tahun 1421H, Dar Al ‘Ashimah, 10/267.</p>
<p style="text-align:justify;">[6] Muqaddimah Ibnu Rusyd 1/369, kami nukil dari kitab Mauqif Al Muslim Minal Qitaal Fil Fitan, Utsman Mu’allim Mahmud cetakan pertama tahun 1416 H, Dar Al Fath 41 dan majalah Al Asholah edisi 21/IV/ 15 rabi’ul awal 1420 H hal. 43</p>
<p style="text-align:justify;">[7] Majmu’ Al Fatawa 10/192-193</p>
<p style="text-align:justify;">[8] ibid 10/191</p>
<p style="text-align:justify;">[9] Al Quthuf Al Jiyaad 5.</p>
<p style="text-align:justify;">[10] Zaadul Ma’ad Fi Hadyi Khoiril ‘Ibaad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdulqadir Al Arnauth, cetakan ketiga tahun 1421H, Muassasat Al Risalah, Bairut 3/9</p>
<p style="text-align:justify;">[11] Ibid 3/10.</p>
<p style="text-align:justify;">[12] Ini adalah ungkapan hadits nabi yang diriwayatkan imam Muslim –kitab Al Imaarah-no. 1910.</p>
<p style="text-align:justify;">[13] Zaad Al Ma’ad 3/9-10.</p>
<p style="text-align:justify;">[14] Ibid 3/6.</p>
<p style="text-align:justify;">[15] Al Quthuf Al Jiyaad hal. 15</p>
<p style="text-align:justify;">[16] Lihat lebih lanjut tulisan Ust. Muslim dalam rubrik Tazkiyatun Nufus pada majalah As Sunnah edisi 09/tahun IX/1426H/2005M hal 55-60.</p>
<p style="text-align:justify;">[17] Diringkas dari Al Quthuf Al Jiyaad hal 12-13.</p>
<p style="text-align:justify;">[18] Diambil dari Al Quthuf Al Jiyaad hal. 18-20 secara bebas.</p>
<p style="text-align:justify;">[19] Lihat Majmu’ Fatawa 15/170</p>
<p style="text-align:justify;">[20] ibid 35/368</p>
<p style="text-align:justify;">[21] wujub Al Ta’awun Baina Al Muslimin- merupakan bagian dari Al majmu’ah Al Kaamilah jilid 5/186</p>
<p style="text-align:justify;">[22] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalat Mutanawi’ah 18/70.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: http://ustadzkholid.com/manhaj/jihad-dalam-perspektif-hukum-islam/</p>
Posted in Aqidah &amp; Manhaj  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/479/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=479&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/jihad-dalam-perspektif-hukum-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islamic Calendar</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/islamic-calendar-2/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/islamic-calendar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 08:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/islamic-calendar-2/</guid>
		<description><![CDATA[

Posted in Uncategorized       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=475&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1MDE3ODQ*MTQzNyZwdD*xMjUwMTc4NDg*ODQzJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPTZlMGVmZWRhYmE2ODQ*NGQ4NTYwNGU2NzBiYmRkNDdlJm9mPTA=.gif" />
<div style="text-align:center;width:150px;height:150px;margin:0 auto;"><iframe frameborder="0" width="158" height="158" src="http://wpcomwidgets.com/?width=150&amp;height=150&amp;src=http%3A%2F%2Fwww.widgipedia.com%2Fwidgets%2Falhabib%2FSticky-Note---Islamic-Hijri-Calendar-2834-8192_134217728.widget%3F__install_id%3D1243173424599%26__view%3Dexpanded&amp;quality=best&amp;flashvars=%26col1%3Dffff99%26dayAdd%3D0%26cal%3Dtrue%26gig_lt%3D1243173473093%26gig_pt%3D1243173496687%26gig_g%3D1%26gig_n%3Dfacebook&amp;loop=false&amp;wmode=transparent&amp;menu=false&amp;allowscriptaccess=sameDomain&amp;_tag=gigya&amp;_hash=027166c481ba16ebb1b0e7d0ce929165" id="027166c481ba16ebb1b0e7d0ce929165"></iframe></div>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=475&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/13/islamic-calendar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1MDE3ODQ*MTQzNyZwdD*xMjUwMTc4NDg*ODQzJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPTZlMGVmZWRhYmE2ODQ*NGQ4NTYwNGU2NzBiYmRkNDdlJm9mPTA=.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Islamic Calendar</title>
		<link>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/11/islamic-calendar/</link>
		<comments>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/11/islamic-calendar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 19:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/11/islamic-calendar/</guid>
		<description><![CDATA[

Posted in Uncategorized       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=474&subd=abdulloh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI*OTk1ODUzMzAxNSZwdD*xMjQ5OTU4NjYxODEyJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZmPWImb2Y9MA==.gif" />
<div style="text-align:center;width:160px;height:160px;margin:0 auto;"><iframe frameborder="0" width="168" height="168" src="http://wpcomwidgets.com/?width=160&amp;height=160&amp;src=http%3A%2F%2Fwww.widgipedia.com%2Fwidgets%2Falhabib%2FWeb-20-Sticker---Islamic-Hijri-Calendar-2835-8192_134217728.widget%3F__install_id%3D1249958486968%26__view%3Dexpanded&amp;quality=best&amp;flashvars=%26col1%3Dff9933%26dayAdd%3D0%26cal%3Dtrue%26gig_lt%3D1249958533015%26gig_pt%3D1249958661812%26gig_g%3D1%26gig_n%3Dwordpress&amp;loop=false&amp;wmode=transparent&amp;menu=false&amp;allowscriptaccess=sameDomain&amp;_tag=gigya&amp;_hash=e564d1be235f655462e6058049854664" id="e564d1be235f655462e6058049854664"></iframe></div>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdulloh.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdulloh.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdulloh.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdulloh.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdulloh.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdulloh.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdulloh.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdulloh.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdulloh.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdulloh.wordpress.com/474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdulloh.wordpress.com&blog=4715811&post=474&subd=abdulloh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdulloh.wordpress.com/2009/08/11/islamic-calendar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f202074aae9028cc3ff250c81023fd2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hasyim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI*OTk1ODUzMzAxNSZwdD*xMjQ5OTU4NjYxODEyJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZmPWImb2Y9MA==.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>